Rabu, Januari 18, 2012

Hiperandrogenisme

hiperandrogenisme.
Hiperandrogenisme adalah keadaan yang menunjukkan adanya tanda-tanda klinis yang berhubungan dengan aksi biologis androgen. Hiperandrogenemia atau hiperandrogenisme merupakan peningkatan level androgen darah. Beberapa etiologi yang menyebabkan hiperandrogenisme pada wanita adalah kelainan hormon pada ovarium dan kelenjar adrenal (PCOS dan adrenal hiperplasia kongenital non-klasik) dan kanker ovari atau kanker adrenal (American Association of Clinical Endocrinologists, 2001).
Peningkatan sirkulasi level androgen terjadi pada 60 – 80% pasien PCOS (Orio et al., 2003; Chang et al., 2005; Hahn et al., 2005 dalam Azziz et al., 2006). Sebagian besar nilai yang abnormal tersebut terdapat dalam bentuk testosteron, sehingga dengan pengukuran tunggal total testosteron dapat dijadikan sebagai pendekatan diagnosis hiperandrogenemia (Chang et al., 2005 dalam Azziz et al., 2006). Nilai testosteron normal wanita adalah 0,03 – 0,1 ng/ml (Sutedjo, 2006).
Menurut Tsilchorodizou et al. (2004) ada dua aksi insulin yang menyebabkan hiperandrogenisme pada PCOS, yaitu inhibisi sintesis sex hormone – binding globulin (SHBG) di hepar, sehingga androgen bebas meningkat, serta inhibisi produksi IGFBP-1 di hepar, sehingga meningkatkan sirkulasi IGF-1 dan aktivitas lokalnya. Implikasi klinis dari penemuan inilah yang mendasari bahwa memperbaiki hiperandrogenisme pada wanita PCOS dapat dilakukan dengan meningkatkan sensitifitas insulin dan mengurangi level insulin. Dalam hal ini, menurunkan berat badan pada wanita PCOS dapat memperbaiki disfungsi endokrin dan ovarium.
Menurut Pasquali dan Cassimiri (1993) terdapat beberapa mekanisme obesitas yang dapat mempengaruhi hiperandrogenisme pada wanita premenopause yang menderita PCOS. Faktor yang mempengaruhi adalah estrogen, insulin, dan sistem insulin growth factor, opiat sistem, dan diet. Dari gambar 2.3. dapat diketahui bahwa obesitas, terutama pada abdomen-visceral berhubungan dengan peningkatan produksi estrogen, melalui peningkatan aktivitas sistim aromatase. Selain itu, beberapa peneliti juga mengungkapkan bahwa wanita PCOS dengan adiposit sentral cenderung memiliki konsentrasi estron yang tinggi dibanding dengan wanita yang memiliki distribusi lemak perifer.
Penurunan level SHBG, yang selalu terjadi bersamaan dengan obesitas, dapat menyebakan peningkatan estradiol bebas yang kemudian dikirim ke jaringan target, termasuk jaringan lemak. Pada wanita obese juga ditandai oleh pengurangan pembentukan dari inaktivasi metabolit estrogen (hidroksilasi metabolit estradiol pada posisi C2 dan oksidasi pada posisi 17), dan oleh availabilitas yang lebih besar dari estron sulfat pada jaringan target. Kondisi ini membuat suasana menjadi hiperestrogen pada wanita obese (Rebar, 2003).
hiperandrogenisme
Gambar 2.3. Faktor Hormonal, Metabolik, dan Nutrisi yang Berperan pada Patofisiologi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
Sumber : Pasquali dan Cassimiri (1993)
Estrogen menekan pengaturan umpan balik pembentukan gonadotropin sehingga meningkatkan produksi androgen ovari pada wanita obese yang ditandai dengan peningkatan sekresi LH. Hal tersebut menyebabkan terjadinya hiperandrogenemia.
Pada penelitian in vitro menunjukkan bahwa insulin dapat menstimulasi sekresi androgen oleh ovari, mengurangi aktivitas aromatase jaringan perifer dan akhirnya menekan sintesis SHBG di hati. Obesitas seperti yang terjadi pada PCOS ditandai oleh peningkatan aktivitas sistem opiat, dan penelitian secara in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa β-endorphin dapat menstimulasi sekresi insulin. Diet juga berperan terhadap perkembangan obesitas pasien PCOS. Wanita vegertarian yang mengonsumsi tinggi serat memiliki konsentrasi androgen yang rendah. Intake lemak yang tinggi memiliki korelasi negatif dengan nilai SHBG. Kombinasi diet rendah serat dan tinggi lemak merupakan faktor penyebab obesitas, yang berkembang menjadi hiperandrogensime (Rebar, 2003).
Homburg (1996) menyatakan bahwa hiperandrogenisme berhubungan dengan oligo atau anovulasi, hirsutisme, dan jerawat yang terjadi pada 8% wanita usia reproduktif. Hal ini serupa dengan yang dikemukakan Baziad (2003) bahwa kadar androgen yang tinggi menyebabkan dinding ovarium fibrosis, selain itu dapat pula menyebabkan terjadinya hirsutisme, akne, seborea, pembesaran klitoris, dan pengecilan payudara.
Penurunan berat badan paling tidak 5% dari massa tubuh dapat memperbaiki sikus menstruasi normal pada wanita PCOS obese dengan amenorea (Kiddy et al., 1992; Huber-Buchloz et al., 1999 dalam Palomba et al., 2006). Penurunan berat badan juga memperbaiki angka kehamilan pada pasien PCOS tanpa treatment (Clark et al., 1995 dalam Palomba et al., 2006) dan wanita yang menjalani treatment fertilitas (Clark et al., 1998; Fedorsack et al., 2001 dalam Palomba et al., 2006).


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...