Minggu, April 03, 2011

Manajemen discharge vagina


Vaginosis bakterial adalah penyebab paling sering discharge vagina, baik pada PSK (pekerja seks komersial) dan bukan PSK. Terapi standar dari vaginosis bakterial adalah 7 hari terapi dengan metronidazole, dosis tunggal metronidazole sedikit kurang efektif. Keefektifan dosis tunggal metronidazole pada wanita dengan vaginosis bakterial lebih rendah pada wanita dengan HIV seropositif dibanding dengan yang seronegatif. Tinidazole yang memiliki waktu paruh lebih lama (12-14 jam vs 6-7 jam dengan metronidazole),  diharapkan akan lebih efektif pada dosis tunggal terapi dan dengan harga yang cukup murah (harga penjualan dosis 2gr = 0,07 dollar US). Penelitian tinidazole dosis tunggal pada wanita dengan vaginosis bakterial menunjukan rentang yang lebar pada keefektifan (51%-97%). Kesepakatan lebih lanjut bahwa tujuan dari terapi trikomonas vaginalis adalah penyembuhan gejala, dalam hal ini tinidazole dosis tunggal sebanding dengan terapi metronidazole selama 1 minggu, bahkan pada wanita yang terinfeksi HIV.

Kombinasi dosis tunggal tinidazole/flukonazole sama efektif seperti terapi standar yang lebih lama dengan metronidazole (7 hari) /klotrimazole (3 hari) pada wanita yang menderita discharge vagina di puskesmas  empat negara Afrika timur. Keefektifan dari kedua terapi ini adalah sama saat memeriksa semua partisipan, juga pada subkelompok yang dipilih sehubungan dengan adanya berbagai macam agen penyebab. Yang penting, kedua terapi tersebut sama efektif pada wanita yang terinfeksi HIV.

Untuk merawat infeksi trikomonas vaginalis, WHO dan yang lain merekomendasikan sebagai pilihan pertama metronidazole (2gr) dosis tunggal, yang mempunyai keefektifan sebanding dengan terapi metronidazole selama 5-7 hari. Tinidazole dibandingkan dengan metronidazole pada percobaan randomisasi awal, analisis-meta pada percobaan ini menunjukan bahwa, dosis tunggal tinidazole lebih kuat daripada dosis tunggal metronidazole. Ditunjukkan bahwa tinidazole dosis tunggal efektif untuk melawan trikomonas vaginalis sama seperti metronidazole selama 7 hari

Sebelumnya, terapi kandidiasis vagina mengandalkan nistatin dengan hasil yang tidak memuaskan. Nistatin telah digantikan dengan krim yang mengandung azole dengan hasil yang lebih baik. Klotrimazole krim vagina generik hanya sedikit digunakan. Dosis tunggal flukonazole oral menawarkan pilihan yang menarik, selama ini dapat dikombinasikan dengan dosis tunggal tinidazole dan diberikan dibawah pengawasan langsung. Flukonazole generik lebih murah dari pada klotrimazole krim vagina. Apakah kandidiasis vulvo-vaginalis lebih sering terjadi atau lebih sering berulang pada wanita dengan infeksi HIV, masih kontroversi dan hanya sedikit informasi mengenai keefektifan dari dosis tunggal flukonazole pada wanita dengan infeksi HIV. Tidak ada perbedaan dalam keefektifan di antara flukonazole dan klotrimazole pada pasien yang terinfeksi HIV dan tidak ada perbedaan dalam respon di antara wanita dengan kandidiasis yang terifeksi HIV dan yang HIV negatif.

            Tanda-tanda servisitis pada pemeriksaan bukan prediksi yang dapat diandalkan dari infeksi serviks. Dari 560 wanita bukan PSK dengan kurang lebih satu tanda servisitis diberikan ciprofloxacin/azithromycin, hanya 30 (5,4%) yang mengidap infeksi serviks, kebanyakan wanita dengan infeksi serviks juga menderita vaginitis, karena berhubungan dengan aktivitas seksual mereka, vaginosis bakterial dan trikomonas vaginalis lebih sering terjadi pada wanita dengan infeksi serviks. Hanya 53 (5,4%) dari yang bukan PSK terinfeksi dengan Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis dan atau Mycoplasma genitalium, dari ini hanya 18 dan 28 mempunyai ≥10 dan ≥4 leukosit/LPB, berturut-turut. Pada keterangan tersebut prevalensi rendah dicoba untuk mengenali yang bukan PSK dengan infeksi serviks tampaknya tidak berarti.

            Cross-sectional dan study cohort telah memeriksa hubungan antara HIV dan vaginitis. Estimasi meta-analisis menerangkan bahwa resiko terjadinya HIV meningkat 1.4-2.2 untuk vaginalis bakteriosis, trikomonas vaginalis dan kandidiasis. Walaupun tidak ada keterangan bahwa terapi adekuat dari vaginosis bakterial menurunkan resiko terjadinya HIV, prevalensi tinggi dari terjadinya vaginosis bakterial memberi kesan bahwa discharge vagina lebih tinggi pada wanita dengan kandidiasis dan diturunkan oleh perawatan kandidiasis dan vaginalis bakteriosis.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...