Jumat, September 24, 2010

KB alami dengan ASI

Tak perlu cemas bila haid belum datang lagi usai melahirkan. Selama masih menyusui, normal, kok, jika "si tamu" baru datang 3 bulan atau malah 4-6 bulan kemudian.

Sebetulnya usai persalinan mayoritas ibu haidnya jadi kacau meski semula siklusnya teratur. Pada mereka dengan persalinan normal, secara teori keteraturan haid akan lebih cepat terjadi. Pasalnya saat hamil akan terjadi perubahan hormonal dalam diri wanita yang bersangkutan. Tepatnya, peningkatan hormon estrogen, progesteron, hCG (human Chorionic Gonadotropin), dan lain-lain, yang memang diperlukan untuk mempertahankan kehamilan.
Ketidakseimbangan hormonal ini juga terjadi pada pascapersalinan. Terutama meningkatnya hormon prolaktin dan oksitosin yang berkaitan dengan aktivitas menyusui. Itu sebabnya mereka yang menyusui bayi umumnya relatif lebih lambat menstruasinya kembali datang dibanding yang tidak menyusui. Dan dengan melakukan program menyusui ASI eksklusif (selama 6 bulan pertama), dalam tenggang waktu tersebut ibu mendapat manfaat tambahan berupa KB alami.
Artinya, kadar hormon prolaktin yang tinggi akan menekan aktivitas indung telur dalam mengurangi kepekaan ovarium terhadap hormon pengatur kesuburan. Selain menghambat pematangan folikel maupun menghambat umpan balik positif, hingga menekan pengeluaran hormon kesuburan dari hipofisis (otak) hingga akhirnya tak pernah terjadi ovulasi/pengeluaran sel telur.
Dengan tidak terjadinya ovulasi, menstruasi pun jadi datang lambat. Karena itu bisa saja ibu menyusui tidak haid paling cepat 2 bulan dan selambat-lambatnya 18 bulan kemudian setelah melahirkan. Tergantung dari variasi biologis dan intensitas menyusui masing-masing individu.
Sementara mereka yang tidak menyusui, begitu selesai masa nifas yang berlangsung sekitar 6 minggu (40 hari) biasanya sudah akan terjadi ovulasi kembali dan bila tidak terjadi kehamilan akan diikuti dengan menstruasi.
TAKUT HAMIL LAGI
Sayangnya, tidak datangnya haid telanjur diidentikkan sama dengan kehamilan. Tak heran kalau sampai lewat masa nifas, bahkan lebih dari 3 bulan "si tamu bulanan" belum muncul juga, si ibu lantas gelisah/khawatir kalau-kalau dirinya hamil lagi. Terlebih mereka yang tak ingin hamil dalam waktu dekat. Padahal, bukan tidak mungkin ibu-ibu yang menyusui dan tidak ber-KB, kesuburannya segera pulih selepas masa nifas.
Kalau sudah begitu bukan mustahil bakal terjadi pembuahan yang bisa membuat si ibu langsung hamil lagi tanpa mengalami menstruasi terlebih dulu. Soalnya, tingkat kesuburan ini bersifat individual dan tidak bisa diprediksi hanya dengan mengandalkan pemberian ASI. "Karena itu, mereka yang bersikeras tak ingin segera hamil, biasanya dianjurkan untuk segera ber-KB begitu usai nifas."
Sementara untuk memastikan apakah dirinya hamil atau tidak, harus dilakukan tes kehamilan. Semisal pemeriksaan Beta-HCG air seni, pemeriksaan kadar hormon kehamilan, Beta HCG darah, dan diperkuat dengan pemeriksaan USG vaginal. Bila hasilnya positif, terlambatnya datang bulan dari jadwal semestinya, berarti si ibu sudah berbadan dua kembali.
KENALI PENYEBAB
Mengenai keterlambatan menstruasi usai bersalin, mau tidak mau harus dicari penyebabnya. Apakah terjadi gangguan hormonal, atau malah ada kista pada indung telur, endometriosis, endometritis/ perlekatan rongga rahim akibat radang pada selaput lendir rongga rahim. Meski pada kasus-kasus ibu usai melahirkan yang umumnya terjadi adalah gangguan hormonal.
Mekanismenya, hormon prolaktin yang banyak diproduksi semasa menyusui akan memberi sinyal tertentu pada kelenjar hipofisis di otak. Sinyal ini membuat tidak terjadinya proses pematangan folikel. Selanjutnya, sel telur akan dikondisikan untuk tidak mengalami pematangan, hingga ovulasi pun tidak terjadi. Jadi, mekanisme semacam itulah yang membuat ibu-ibu menyusui tidak haid.
Memang pada beberapa kasus, tetap terjadi "kebobolan". Sebab memang tidak bisa dijadikan jaminan si ibu tak bakal hamil sepanjang ia memberikan ASI-nya dengan benar. Tak heran jika si ibu lantas jadi was-was menanti datangnya kembali menstruasi. "Justru karena khawatir, haid malah tak datang. Kondisi si ibu yang stres menjadi semacam feedback bagi otak. Semakin banyak faktor yang muncul, kerja bagian otak yang mengatur soal menstruasi ini juga kian kacau."
Idealnya,  "Buang segala kekhawatiran tadi. Kalau masih ragu-ragu, pastikan dengan tes kehamilan. Termasuk mencari penyebab-penyebab keterlambatan tadi, semisal melalui analisa hormonal." Bila stres berat atau terdapat kelainan pada hipotalamus hipofisis-ovarium yang menjadi faktor penyebabnya, akan memunculkan gangguan hormon. Salah satu akibatnya, terjadi kekurangan hormon progesteron yang pada kondisi normal justru diperlukan bagi terjadinya menstruasi.
SALING TERKAIT
"Dok, kalau saya enggak mens, lalu darah mensnya ke mana?" begitu pertanyaan awam yang acap dilontarkan. Padahal saat seorang wanita tidak menstruasi, darah mensnya memang tidak terbentuk. Sebabnya, folikel-folikel tidak berkembang sementara lapisan selaput lendir rahim pun tidak mengalami penebalan yang memang dipersiapkan kalau-kalau terjadi pembuahan dan kehamilan. Kondisi ini tentu saja tidak memungkinkan terjadinya penebalan dinding rahim yang bila tidak terjadi pembuahan selanjutnya akan luruh dalam bentuk menstruasi. Semua proses tersebut tidak terjadi karena memang tidak ada sel telur yang disiapkan untuk jadi matang.
Dengan begitu, jika haid tak juga datang, harus dicari dari mana sumber masalahnya. Apakah ada kelainan di bagian otak, hingga Folikel Stimulating Hormone(FSH) tak diproduksi, ataukah fungsi-fungsi organ reproduksinya belum kembali pulih seperti sedia kala. "Semua itu, kan, saling terkait." Akibatnya, terjadi gangguan keseimbangan hormon estrogen dan progesteron yang berperan penting dalam pengaturan haid normal. Bila secara fisik tidak dijumpai adanya kelainan pada organ-organ reproduksinya, gangguan haid ini akan hilang dengan sendirinya apabila wanita yang bersangkutan telah berhasil mengatasi faktor stres yang mengakibatkan ketidakseimbangan hormonal atau sudah tak menyusui lagi
Semestinya, setiap ada gangguan hormon, lakukan pemeriksaan kadar estrogen dan progesteron ke ahli endokrinologi. Ketidakseimbangan hormon itulah yang kemudian dijadikan pertimbangan pengobatan. Agar terjadi keseimbangan kembali biasanya akan diberikan progesteron. Itu sebabnya, langkah awal yang ditempuh adalah Test-P/tes progesteron. Yakni di saat haid tak kunjung datang dan yang bersangkutan dipastikan tidak hamil, sementara vagina dan jalan lahirnya tidak tertutup, serta di uterus pun tak ada hambatan.
Langkah non-invasif tersebut biasanya mengharuskan yang bersangkutan bersabar menunggu seminggu sampai 10 hari. Bila lewat waktu tersebut ternyata tetap tidak haid, kemungkinan besar ada masalah dengan progesteron sekaligus estrogen yang tidak terbentuk. Nah, langkah berikut yang biasanya ditempuh adalah pemberian hormon estrogen sekaligus progesteron. Tentu saja ini diberikan jika tidak ada tanda-tanda kehamilan. Toh, bila tak kunjung haid, bisa dilakukan anamnesa. Apakah dari situ akan muncul keluhan-keluhan yang mengarah pada kepastian tanda-tanda kehamilan atau bukan.

Langsung KB Usai Nifas
Terlebih pada mereka yang sejak awal memang sudah bertekad tak mau segera hamil, usai nifas sebaiknya langsung ber-KB. Toh, pada dasarnya ber-KB tak harus menunggu datangnya menstruasi. Yang penting, yakinkan bahwa dirinya tak hamil. KB terpilih adalah KB hormonal (preparat progesteron saja) atau KB mantap (spiral atau sterilisasi saja) yang tidak mengganggu produksi ASI.
Selain untuk memudahkan pemasangan spiral, alasannya saat haid berarti jalan lahirnya terbuka, hingga relatif lebih mudah dipasangi spiral disamping si ibu pun tidak merasa sakit. Kalau sedang tidak haid, berarti jalan lahirnya sedang rapat. Nah, jika dipaksakan, akan mendatangkan rasa sakit hingga ber-KB malah jadi pengalaman traumatis.
Selain itu perlu dipahami pula bahwa beberapa sarana ber-KB memang dikondisikan untuk tidak haid. Konsentrasi antara progesteron dan estrogen memang dibuat tidak berimbang. Makanya begitu lepas KB hormonal, perlu waktu sekian lama untuk haid kembali. Tubuh akan menyesuaikan diri dengan konsentrasi hormonal yang sudah terbiasa tidak seimbang tadi.



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...