Jumat, November 04, 2011

Manajemen Kehamilan dengan Bayi Diskordan

Jumlah kehamilan multifetal meningkat oleh karena usia ibu yang meningkat dan teknologi reproduksi buatan. Kehamilan multifetal meningkatkan kelainan kromosom spesifik dan kelainan anomali janin (pada monokorionik lebih banyak daripada dizigotik). Suatu penelitian mengungkapkan bahwa kembar dengan berat lahir diskordan mempunyai frekuensi yang tinggi yaitu 11,7% di antara 478 pasang kelahiran kembar. Bayi kedua mempunyai berat lahir sangat rendah dan luaran perinatal yang buruk.

Dikatakan bahwa pertumbuhan yang terhambat pada salah satu janin dari sepasang kembar, dibanding twin-twin transfusion syndrome, mempunyai kontribusi yang lebih besar untuk berat lahir diskordan.(1) Meski Babson dkk mendefinisikan berat lahir kembar discordancy sebagai satu kelahiran sepasang bayi dengan berat lahir mempunyai perbedaan 25% atau lebih, namun akhir- akhir ini suatu batasan 15% secara umum bisa diterima. (1) Menurut SOGC Consensus Statement (July 2000), diagnosis diskordan didasarkan pada : lingkar abdominal (abdominal circumference / AC) berbeda 20 mm, taksiran berat janin (estimated fetal weight /EFW) didasarkan pada Bi-Parietal Diameter /BPD dan AC atau AC dan femur length / FL berbeda lebih dari 20 persen.(2) Data ini didukung bahwa pada sepasang kembar diskordan, jenis kelamin laki-laki lebih berat dibanding wanita pada kembar laki-perempuan, dan juga sepasang kembar berjenis kelamin sama, laki-laki juga lebih berat dibanding wanita.Risiko kematian perinatal meningkat pada bayi kembar diskordan. Pentingnya keakuratan dan waktu yang tepat dalam mengidentifikasi pertumbuhan diskordan terutama dalam hubungannya dengan komplikasi twin – twin transfusion syndrome dan intra uterine growth restriction (IUGR) pada janin yang kecil.

Para ahli kandungan memberikan rekomendasi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas perinatal kehamilan kembar adalah : 1) dengan diagnosis dini ; 2) pencegahan persalinan preterm; 3) pengawasan hal-hal janin yang tepat (fetal surveilans) intrauterine dan intrapartum. Penggunaan ultrasonografi dan Doppler velosimetri dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan, tipe korion, aliran darah uteroplasental, dan anastomosis vaskuler untuk mendeteksi twin-twin transfusion syndrome, akan sangat menolong dalam mengurangi fenomena kembar diskordan dan diharapkan memberi kontribusi dalam mereduksi morbiditas dan mortalitas perinatal. (1) Pentingnya keakuratan dan waktu yang tepat dalam mengidentifikasi pertumbuhan diskordan terutama dalam hubungannya dengan komplikasi twin – twin transfusion syndrome dan intra uterine growth restriction (IUGR) pada janin yang kecil. (1)


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...