Minggu, April 17, 2011

Kecemasan dalam persalinan

Ibu hamil pertama tidak jarang memiliki pikiran yang mengganggu, sebagai pengembangan reaksi kecemasan terhadap cerita yang diperolehnya. Semua orang selalu mengatakan bahwa melahirkan itu sakit sekali. Oleh karena itu, muncul ketakutan-ketakutan pada ibu hamil pertama yang belum memiliki pengalaman bersalin. Adanya pikiran-pikiran seperti melahirkan yang akan selalu diikuti dengan nyeri kemudian akan menyebabkan peningkatan kerja sistem syaraf simpatetik. Dalam situasi ini, sistem endokrin, terdiri dari kelenjar-kelenjar, seperti adrenal, tiroid, dan pituitary (pusat pengendalian kelenjar), melepaskan pengeluaran hormon masing-masing ke aliran darah dalam rangka mempersiapkan badan pada situasi darurat.
Akibatnya, sistem syaraf otonom mengaktifkan kelenjar adrenal yang mempengaruhi sistem pada hormon epinefrin. Hormon yang juga dikenal sebagai hormon adrenalin ini memberi tenaga pada individu serta mempersiapkan secara fisik dan psikis.
Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia menempati urutan tertinggi di Asia Tenggara. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 menunjuk angka 307/100.000 kh (Indonesia Human Development Report, 2001). Secara keseluruhan, saat ini AKI tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat, sementara yang terendah adalah di Yogyakarta. Di tingkat propinsi DIY sendiri, AKI mencapai 110/100.000 kh, sedangkan AKI di kota Yogyakarta dibanding di tingkat DIY maupun Nasional termasuk rendah, yaitu berada pada angka 40– 80/100.000 kh. Meski demikian, AKI di sejumlah Kabupaten di DIY saat ini masih cukup tinggi. Banyak faktor penyebab tingginya AKI. Salah satunya adalah kondisi emosi ibu hamil selama kehamilan hingga kelahiran bayi 1
Selama kehamilan, ibu mengalami perubahan fisik dan psikis yang terjadi akibat perubahan hormon. Perubahan ini akan mempermudah janin untuk tumbuh dan berkembang sampai saat dilahirkan. 2 Adapun pada trimester ketiga (27-40 minggu), kecemasan menjelang persalinan ibu hamil pertama akan muncul. Pertanyaan dan bayangan apakah dapat melahirkan normal, cara mengejan, apakah akan terjadi sesuatu saat melahirkan, atau apakah bayi lahir selamat, akan semakin sering muncul dalam benak ibu hamil. Usia kandungan tujuh bulan ke atas, tingkat kecemasan ibu hamil semakin akut dan intensif seiring dengan mendekatnya kelahiran bayi pertamanya. Di samping itu, trimester ini merupakan masa riskan terjadinya kelahiran bayi prematur sehingga menyebabkan tingginya kecemasan pada ibu hamil. 3,4
Kehamilan dan persalinan adalah salah satu rantai kejadian dalam perkembangan manusia dari lahir sampai mati. Dan setiap perubahan–perubahan kehidupan merupakan stressor pada kehidupan. Pada sebagian wanita, kehamilan dan persalinan merupakan stressor yang minimal dan sebagian besar merupakan saat yang membahagiakan dalam kehidupan. Kemampuan dalam menghadapi keadaan tersebut tergantung pada usia, pendidikan, maturitas, kepribadian, pengalaman kehamilan dan persalinan sebelumnya, dan keadaan sosial ekonomi 1
Perasaan cemas seringkali menyertai kehamilan terutama pada seorang ibu yang labil jiwanya. Kecemasan ini mencapai klimaksnya nanti pada saat persalinan. Rasa nyeri pada waktu persalinan sudah sejak dahulu menjadi pokok pembicaraan para wanita. Oleh karena itu banyak calon ibu yang muda belia menghadapi kelahiran anaknya dengan perasaan takut dan cemas. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa wanita–wanita yang mengalami kecemasan sewaktu hamil akan lebih banyak mengalami persalinan abnormal. 5 Mengingat kecemasan mempunyai akibat yang buruk pada persalinan maka perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan bila diperlukan agar tidak menimbulkan komplikasi persalinan.
Konsekuensi pelaksanaan pelayanan obstetri modern dapat menurunkan jumlah morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal, terutama saat persalinan dan melahirkan. Namun demikian, tindakan intervensi obstetri mengalami peningkatan, misalnya operasi sesar. Manajemen aktif tersebut dimaksudkan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya efek samping yang dapat menyebabkan morbiditas maternal maupun neonatal. Dukungan bagi ibu selama proses persalinan oleh tenaga kesehatan profesional maupun oleh seorang wanita yang telah dilatih secara khusus (doula) telah banyak dievaluasi pada beberapa penelitian. Data-data penelitian tersebut menunjukkan bahwa efek dukungan selama proses persalinan berhubungan dengan menurunnya perasaan atau persepsi tidak nyaman terhadap proses persalinan, menurunnya penggunaan anestesi atau analgesia, serta penggunaan instrumen saat persalinan (ekstraksi vakum atau forseps) dan menurunnya kemungkinan operasi sesar 2.  Penelitian lain yang serupa menyatakan bahwa dukungan sosial selama persalinan dapat mempercepat penyembuhan setelah melahirkan, membantu ibu untuk menjadi lebih dekat dengan anak dan menurunkan kecemasan dan depresi dalam rentang waktu 6 minggu pertama post partum6
Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah lalu dan secara kultural, seorang wanita yang menjalani proses persalinan hingga melahirkan bayi selalu ingin didampingi dan didukung oleh wanita lainnya. Namun sejak pertengahan abad 20 hingga masa kini, di banyak negara, baik di negara maju maupun di negara berkembang, lebih banyak wanita yang melahirkan di rumah sakit dibandingkan di rumah, sehingga dukungan sosial bagi ibu melahirkan menjadi hal yang khusus dibandingkan hal yang rutin dikerjakan 7
Sebagai contoh di negara Meksiko maupun di negara-negara dimana urbanisasi cepat terjadi, dimana lebih dari 60 % wanita tinggal di kota, telah ada perubahan model perawatan tradisional saat ibu melahirkan maupun post partum dengan suatu model pelayanan obstetri pribadi di pusat-pusat kesehatan besar. Delapan puluh lima koma empat persen persalinan berlangsung di rumah sakit, 10% persalinan berlangsung di rumah, dan hanya 3,3% berlangsung di rumah bersalin bidan. Petugas kesehatan profesional kerapkali tidak mempedulikan betapa pentingnya pendampingan ibu saat persalinan baik oleh anggota keluarga, tetangga, bahkan oleh penolong persalinan tradisional (dukun). Persalinan yang terjadi rumah sakit yang ditangani oleh para dokter, bidan maupun perawat lebih sering menggunakan intervensi medis, padahal terkadang berbagai intervensi medis tersebut justru dapat mempengaruhi situasi emosional ibu dan menimbulkan trauma tersendiri. Intervensi medis yang cukup banyak dilakukan misalnya episotomi dan operasi sesar.
Tingginya penggunaan model intervensi medis dapat memicu pemakaian intevensi medis yang tidak perlu, mengabaikan kebutuhan emosional ibu yang pada akhirnya dapat menyebabkan tingginya biaya pelayanan medis. Sistem pendampingan saat persalinan maupun post partum yang dilakukan dengan metode ‘doula’ diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusui dengan memperbaiki suasana emosional ibu, memperpendek lama persalinan dan menurunkan intervensi medis
6,8
Dukungan saat persalinan dimaksudkan sebagai dukungan serta perawatan non medis bagi wanita yang hendak melahirkan, yaitu meliputi 1). Memberikan perhatian untuk kenyamanan fisik, 2). Memberikan dukungan emosional, 3). Memberikan dukungan dan bimbingan untuk suami pasien, 4). Memberikan informasi, 4). Memfasilitasi komunikasi antara pasien dan petugas kesehatan rumah sakit dalam membuat keputusan9
Berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang telah ada, WHO merekomendasikan bahwa setiap wanita yang akan melahirkan didampingi oleh seseorang yang dipercayainya dan dapat menentramkan hatinya. Pendampingan itu dapat dilakukan oleh suami, doula, perawat atau bidan 2
Suatu penelitian telah dilakukan Scott mengenai keefektifan dukungan secara rutin oleh seorang wanita yang terlatih atau dikenal sebagai doula, selama persalinan, terhadap luaran obstetrik dan post partum. Hasilnya adalah dukungan emosional dan dukungan fisik secara signifikan dapat memperpendek lama persalinan dan menurunkan risiko kemungkinan dilakukannya operasi sesar, forseps dan ekstraksi vakum, percepatan persalinan dengan oksitosin serta kebutuhan analgesia. Kesulitan saat persalinan dan timbulnya nyeri lebih sedikit pada kelompok ibu yang didukung oleh doula dibandingkan tanpa dukungan doula 10
Ada suatu systematic review yang meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan ibu saat mengalami persalinan menunjukkan bahwa dukungan selama persalinan yang terus menerus memberikan kontribusi yang substansial terhadap kepuasan tersebut. Pada saat wanita dievaluasi mengenai pengalamannya saat persalinan, ada empat faktor yang menonjol, yaitu 1). Sejumlah dukungan yang diberikan oleh seseorang yang mendampinginya, 2). Kualitas hubungan dengan seseorang yang mendampinginya, 3). Keterlibatan untuk membuat suatu keputusan, 4). Pengalaman yang terjadi lebih dari apa yang diharapkannya 7. Kecemasan ibu dalam persalinan juga dipengaruhi oleh faktor personal dalam diri individu seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, sosial ekonomi dan sebagainya 1.  Ada hubungan antara dukungan psikososial dengan tingkat kecemasan selama persalinan primigravida, semakin tinggi dukungan psikososial yang diterima, semakin menurun tingkat kecemasan selama persalinan primigravida. Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pendidikan dan umur ibu dengan skor kecemasan selama persalinan primigravida, hal ini berarti meningkatnya pendidikan dan umur tidak diikuti dengan turun skor kecemasan selama persalinan primigravida.



DAFTAR PUSTAKA

1. Priantono, H. 2003. Lanny Kuswandi: Terapi Hypnobirhing, Melahirkan Tanpa Sakit. Dalam Kompas. 23 Januari 2003Benson, R.C., 1984, Psychologic Aspects of Obstetric and Gynecology in Current Obstetric and Gynecology Diagnosis and Treatment, Sixteenth Ed., Lange Medical, California.
2. Bruggemann OM, Parpinelli MA, Osis Maria JD, Cecatti JG, Neto Antonio SC, 2007. Support to Woman by a Companion of Her Choice During Childbirth: a Randomized Controlled Trial. Reproductive Health Journal; 1-7.
3. Kalil, K. M., Gruber, J. E., Conley, J. G., & LaGrandeur, R.M. 1995. Relationships among Stress Anxiety, Type A, and Pregnancy-Related Complications. Journal of Prenatal and Perinatal Psychology and Health.
4. Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita: Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan NenekBandung: Mandar Maju. Vol. 9 (3), 221-232.
5. Maramis, W.F., 1986, Ilmu Kedokteran JiwaAirlangga University Press. SurabayaPustaka.
6. Langer A., Campero L., Garcia C., Reynoso S., 1998. Effects of Psychosocial Support During Labor and Childbirth on Breastfeeding, Medical Intervensions, and Mother’s Wellbeing in a Mexican Public Hospital: A Randomized Control Trial. British Journal of  Obstetrics and Gynaecology; 105: 1056-63.
7. Hodnett E.D., Gates S., Hofmeyr G.J., Sakala C., 2007. Continous Support for Women During Childbirth (Review). The Cochrane Collaboration; 1-72.
8. WHO Reproductive Health Library. 2007. Continous Support for Women During Childbirth
9. Stuebe A., Barbieri R.L., 2009. Continous Intrapartum Support. Up to Date for Patient.
10. Scott K.D., Klaus P.H., Klaus M., H., 1999. The Obstetrical and Postpartum Benefits of Continous Support During Childbirth. Journal of Women’s Health and Gender Based Medicine; 8 (10): 1257-64.




Related articles:
Penanganan perdarahan pasca melairkan
Induksi persalinan
Episiotomi
Plasenta previa
Asam Folat dalam Kehamilan
Penilaian disporposi kepala panggul











Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...