Senin, Desember 10, 2012

PRESENTASI BOKONG

bokong2
Presentasi bokong adalah keadaan janin letaknya memanjang dengan bokong menempati bagian bawah rongga janin. Gejala yang biasa dijumpai pada kondisi ini berupa gerakan janin dirasakan di bagian bawah, teraba kepala bulat dan keras dan mudah digerakkan pada fundus uteri. Denyut jantung janin setinggi atau kadang-kadang lebih tinggi dari umbilikus dengan pemeriksan dalam dapat diraba bokong yang ditandai dengan sakrum, anus dan kaki.
Presentasi bokong sering terjadi pada multigravida, kehamilan Kembar, Air Ketuban terlalu sedikit, Uterus mengalami pertumbuhan abnormal, seperti fibroid
Kriteria pada persalinan Presentasi bokong
- Sebelum melakukan persalinan diharuskan untuk memeriksa ulang kembali keadaan janin dengan USG untuk mengetahui tipe dari presentasi bokong, pertumbuhan fetal, perkiraan berat lahir dan posisi kepala, bila tidak ada USG dianjurkan untuk dilakukan Sectio Cesaria. (SOGC 2009, II-1 A)
- Persalinan bokong pervaginam bisa dilakukan jika taksiran berat janin antara 2500gr-4000gr (SOGC 2009, II-2B)
Kontraindikasi pada persalinan bokong
- Presentasi Tali pusat (SOGC 2009, II-3A)
- IUGR atau makrosomia (SOGC 2009, I-A)
- Semua presentasi bokong kecuali presentasi frank atau Presentasi Bokong sempurna dengan posisi kepala bayi flexi (III-B)
Jenis
a. Presentasi bokong murni
Bilamana pada permukaan dalam (toucher) hanya teraba bokong saja.
b. Presentasi bokong sempurna
Bilamana pada pemeriksaan dalam, disamping bokong juga teraba dua kaki
c. Presentasi bokong tak sempurna
Bilamana pada pemeriksaan dalam, disamping bokong hanya teraba satu kaki saja.
d. Presentasi kaki
Bilamana pada pemeriksaan dalam hanya teraba kaki (atau lutut) dengan bokong yang masih tinggi.
 bokongbokong1
Manajemen Presentasi bokong (SOGC 2009)
  1. Perlu dilakukan pemeriksaan pelvik untuk mengetahui kontraksi patologic dari pelvik dan tidak diperlukan radiologi pelvimetri untuk partus percobaan (III-B)
  2. Perlu dilakukan pemantauan denyut jantung janin secara berkala saat kala I dan kala II persalinan (I-A)
  3. Bila persalinan pervaginam tidak bisa dilakukan langsung dilakukan Sectio Cesaria (II-1A)
  4. Induksi persalinan tidak direkomendasikan pada persalinan dengan presentasi bokong (II-3B), penggunaan oxytosin diperbolehkan jika ditemukan adanya distokia uteri (II-1A)
  5. Saat kala II persalinan dan tidak ada kemajuan dengan penekanan aktif sampai dengan 90 menit belum masuk panggul dan ditunggu sampai 60 menit tidak ada perubahan maka harus segera dilakukan Sectio Cesaria. (I-A)
  6. Pada saat kala I fase aktif sebaiknya dilakukan di dekat kamar operasi untuk memudahkan dilakukan Sectio Cesaria (III-A)
  7. Total Ekstraksi bokong tidak bisa dilakukan pada janin aterm dengan persalinan bokong (II-1A)
Dalam persalinan:
a. Pada pembukaan kurang dari 4 cm dan ketuban (+):
Dicoba versi luar, kalau berhasil pervaginam, kalau tidak berhasil pada nulipara TBJ (Taksiran Berat Janin) lebih dari 3500 gram dilakukan bedah caesar.
b. Pembukaan lebih dari 4 cm, ketuban - / +:
Pada nulipara TBJ lebih dari 3500 gram dilakukan bedah caesar
c. Pada multigravida dengan janin besar, fetal distress, ketuban negatif lebih dari 12 jam: bedah caesar
d. Jika ada kelainan his (lemah) dipacu. Bila gagal dilakukan bedah sesar, dan jika berhasil partus pervaginam bisa secara bracht, ekstraksi lokal atau parsial.
Catatan:
- Waktu dibutuhkan sejak pusat bayi lahir sampai bayi lahir seluruhnya maksimum 8 menit.
- Konfirmasi TBJ dengan pengukuran diameter biparietal (menggunakan USG).
- Bracht dinyatakan gagal bilamana persalinan spontan tak terjadi atau tidak berlangsung dengan mulus.
Sarana:
- Kamar bersalin / kamar tindakan.
- Oksigen.
- Kamar operasi apabila perlu bedah caesar.
- Tenaga.
- Ahli kebidanan dan penyakit kandungan.
- Ahli anak.
- Paramedis.






































Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...