Senin, Juni 11, 2012

Kadar hemoglobin dalam kehamilan

anemia hamil
Di negara Asia dan Afrika anemia masih merupakan penyebab kematian maternal. Walaupun demikian belum ada yang membuktikan bahwa anemia dapat berpengaruh langsung terhadap hasil kehamilan (Varat,1972, Yip,2000). Pada kondisi anemia kronik akan terjadi mekanisme kompensasi untuk memperbaiki transport oksigen ke jaringan. Kompensasi ini akan adekuat bila kadar hemoglobin antara 7-8g/dl (Pollock, Cotter, 1992).

Kadar hemoglobin ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium. Menurut WHO seorang wanita dikatakan anemia apabila kadar hemoglobin adalah kurang dari 7g/dl. Anemia ringan didefinisikan dengan kadar hemoglobin dibawah 10g/dl. Kadar hemoglobin 7-10g/dl dikategorikan anemia sedang. Apabila hemoglobin dibawah 5g/dl dikategorikan dengan anemia berat. Konsentrasi hemoglobin dibawah 5g/dl meningkatkan risiko kematian secara signifikan pada ibu dan bayi oleh karena efek hipoksia dan anemia pada sistem kardiovaskuler.
Definisi anemia yang direkomendasikan Centers for Disease and Prevention adalah kadar hemoglobin atau hematokrit yang diukur dibawah persentil 5 dari nilai normal wanita hamil. Kehamilan trimester I kadar hemoglobin 11g/dl dan hematokrit 33%. Pada Trimester II kadar hemoglobin 10,5g/dl dan hematokrit 32%. Sedangkan untuk trimester III hemoglobin 11g/dl dan hematokrit 33% (Malee, 2008)
Seperti anemia, kadar hemoglobin yang sangat tinggi lebih dari normal yaitu sama atau lebih dari 15g/dl . Kadar hemoglobin yang tinggi ini juga diklasifikasikan dengan ringan bila 15-16g/dl, sedang 16-17g/dl, berat >17g/dl. Pada kehamilan batas atas dari hemoglobin tinggi lebih rendah karena patofisiologi dari kehamilan yang mengubah konsentrasi hemoglobin (Pollock, Cotter, 1992).
Wanita memiliki cadangan zat besi yang lebih rendah daripada pria karena kehilangan darah selama menstruasi. Selama dalam kehamilan , kebutuhan akan zat besi meningkat dari 1 mg/hari menjadi 2,5 mg/hari pada awal kehamilan, dan menjadi 6,5 mg pada trimester ketiga. Beberapa penelitian menggunakan isotop didapatkan prosentase absorbsi non heme iron dari makanan pada wanita hamil normal dengan persediaan zat besi meningkat 7% pada kehamilan 12 minggu, menjadi 36% saat hamil 24 minggu dan 66% saat hamil 36 minggu. Perubahan ini dapat diimbangi tanpa menjadikan anemia, tetapi kalau persediaan zat besi pada awal kehamilan sedikit sedangkan asupan makanan kurang, kebutuhan janin dipenuhi dari simpanan zat besi ibu, sehingga ibu akan anemia (Barret et al. 1994, Steer, 2000).
Penelitian Muslimatun et al. (2000), menunjukkan hasil bahwa wanita hamil yang diberikan suplemen Fe dan vitamin A tiap minggu dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan vitamin A mengalami peningkatan konsentrasi hemoglobin tetapi mengalami penurunan konsentrasi ferritin.
Penelitian Yip (2000) di Cina tentang kadar hemoglobin yang rendah dan tinggi yang signifikan selama kehamilan, menyebutkan bahwa anemia merupakan penyebab tidak langsung hasil kehamilan yang jelek. Sehingga dilakukan pemberian program pemberian besi selama kehamilan. Kadar hemoglobin yang tinggi tidak selalu berhubungan dengan status besi. Kadar hemoglobin yang tinggi tidak tergantung dengan kadar besi dan hal ini berhubungan dengan hasil kehamilan yang jelek.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...