Minggu, Januari 23, 2011

Penilaian Kualitas Embrio

Fertilisasi dimulai dengan penetrasi satu atau lebih spermatozoa melalui zona pellusida dan ooplasma, membentuk pronuklei jantan dan betina dalam ooplasma. Selanjutnya akan terjadi mitosis dari zigot. Pada hari ke 3 zigot akan membelah menjadi 8-16 sel yang disebut morula. Pada hari ke 7 zigot akan menjadi blastokis yang terdiri dari satu lapis sel trofoblas (yang akan membentuk plasenta) dan inner cell mass.
Pemeriksaan laboratorium pasca inseminasi dilakukan 15-18 jam setelah inseminasi untuk melihat indikasi morfologik fertilisasi yaitu terbentunya kedua polar body, didapatkannya dua pro nuklei dan ooplasma yang terpisah dari zona pellusida. Kurang lebih 60-90% oosit akan terfertilisasi setelah dilakukan inseminasi in vitro. Seperti yang sudah diketahui bahwa tahap dua sel pertama dikontrol oleh gen maternal  (Braude et al., 1998). Efek paternal pada embrio baru dimulai pada tahap 4 sel; oleh karena itu, efek negatif pada embrio dapat diobservasi secara in vitro setelah tahap perkembangan hingga formasi blastosit, atau secara in vivo, terlihat saat implantasi, kehamilan, viabilitas kehamilan dan gagalnya embrio transfer. (Oehninger, 1998)
Kemungkinan implantasi embrio dapat diperkirakan dengan dilakukannya penilaian kualitas embrio. Kualitas embrio dinilai dari pertumbuhannya dan penampilan morfologi. Cara lain berupa pemeriksaan kromosom embrio melalui Preimplantation Genetic Diagnosis dengan metode Polymerase Chain Reaction. Pemeriksaan dengan metode PCR termasuk jenis pemeriksaan canggih, invasif dan membutuhkan biaya yang mahal. Kualitas embrio dipengaruhi oleh, antara lain jenis obat stimulasi oosit. GnRH antagonis tampak berpengaruh lebih baik pada beberapa parameter dalam tahap awal perkembangan embrio. Pasien dengan endometriosis memproduksi sedikit oosit dan walaupun angka fertilisaasi sama dengan pada pasien normal, embrio pada pasien endometriosis lebih sedikit yang mencapai pembelahan tahap 4 sel. Hal ini mungkin endometrioma menghasilkan zat yang berbahaya bagi maturitas oosit serta juga berpengaruh terhadap pembelahan oosit setelah fertilisasi. Sampai saat ini penilaian kualitas embrio masih banyak menggunakan skor morfologi embrio yang menitikberatkan pada penilaian ukuran blastomer dan serta adanya fragmentasi. Penilaian dilakukan dengan mikroskop binokuler biasa dengan tujuan supaya dapat dilakukan dengan cepat dan non invasif. Inspeksi kemajuan proses fertilisasi dilihat kurang lebih 18 jam setelah inseminasi (Rizal, 2003).

Gambar 1. Penilaian kualitas embrio berdasarkan metoda Hill. (Lens JW, 1996)




Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...