Minggu, Januari 23, 2011

Pengaruh Leukosit dalam sperma

Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit ini sebagaian besar diproduksi di sumsum tulang (granulosit, monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma). Setelah dibentuk, sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan. Manfaat sesungguhnya dari sel darah putih ialah kebanyakan ditransport ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius (Guyton, 1997). 

Leukosit terdapat dalam saluran reproduktif pria dan hampir selalu ditemukan pada pemerikasaan cairan sperma. Secara fisiologis, kebanyakan dari leukosit tersebut berkumpul pada epididimis dan berfungsi untuk system imunitas dan proses fagositosis spermatozoa abnormal (Tomlinson, 1992). Pengamatan akurat jumlah leukosit adalah penting karena jika jumlahnya berlebihan (leucocytospermia) merupakan indikasi adanya infeksi saluran reproduksi, yang memerlukan terapi antibiotika. Selanjutnya, leukositospermia mungkin berkaitan dengan kelainan profil semen termasuk berkurangnya volume ejakulat, jumlah sperma, motilitas sperma, juga menurunnya fungsi sperma akibat pengaruh oksidasi atau adanya sitokin tertentu yang bersifat sitotoksik. Batas jumlah leukosit yang apabila dilampaui akan mengganggu fertilitas masih sulit untuk ditentukan. Pengaruh sel-sel ini tergantung dari tempat dimana leukosit masuk semen, tipe leukosit, dan keadaan pengaktifan leukosit tersebut (WHO, 1992).

Dikarenakan hanya jumlah sperma yang dihitung dalam pencacahan sperma, jumlah dari leukosit dapat dihutung secara relatif dengan jumlah sperma yang diketahui. Jika N adalah jumlah dari jenis sel yang dicacah dalam sebuah lapangan pandang sama dengan 100 sperma dan S adalah jumlah sperma dalam juta/ml, maka C jumlah sel yang dicacah dalam juta/ml dapat dihitung menggunakan rumus


Dengan rumus tersebut maka kita dapat menentukan leukosit dalam juta/ml.

Pengaruh leukosit pada morfologi sperma terdapat pada adanya sitokin-sitokin dan Reactive Oxygen Species (ROS). Peningkatan konsentrasi dari leukosit dapat meningkatkan kadar kedua senyawa tersebut (Lui, 2007). Peningkatan kadar sitokin dapat mengurangi beberapa produksi protein yang dibutuhkan untuk proses spermatogenesis. Beberapa sitokin-sitokin seperti TNF-Į dan TGF-ȕ3 yang bisa mengurangi produksi Ocludin yang dapat mengurangi pembentukan spermatozoa dan Claudin yang menyebabkan tubulus seminiferus terisi banyak “nucleated cell” yang berkumpul. Selain itu adanya IL1Į yang meningkatkan Conexin sehingga spermatogonia terlalu aktif (Lui, 2007).
Peningkatan jumlah leukosit juga akan meningkatkan kadar ROS. ROS adalah grup radikal bebas yang diproduksi spermatozoa, pada saluran reproduksi pria. Dalam kondisi fisiologis, spermatozoa memproduksi ROS dalam jumlah yang kecil. Dalam jumlah yang kecil, ROS dibutuhkan untuk regulasi fungsi sperma, kapasitasi sperma dan reaksi akrosom. Sedangkan dalam jumlah yang besar ROS berbahaya terhadap sel normal dan menurunkan potensi fertilitas dari sperma melalui kerusakan DNA dan apoptosis (Nallella, 2006)

Hubungan lekosit dan ROS adalah pada netrofil polimorfonuklear dan makrofag yang merupakan sebagian besar lekosit, berperan menyerang bakteri patogen dan benda-benda asing, keduanya berkemampuan membangkitkan ROS. Senyawa ini dapat menginduksi lipid peroksidase di dalam membran sel, jika lipid peroksidase dalam jumlah yang banyak ditambahkan ke dalam suspensi sperma akan mempengaruhi motilitas sperma dan menyebabkan agregasi sperma (Aziz, dkk 2004)



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...