Jumat, Juni 15, 2012

Mengapa pencegahan kanker leher rahim masih minim?

alat paps smear

Salah satu kendala yang menyebabkan tidak dilakukannya papsmear secara rutin di tempat pelayanan kesehatan primer adalah tidak tersedianya peralatan untuk membuat apusan sitologi. Peralatan standar yang dibutuhkan antara lain meja pemeriksaan ginekologi, spekulum cocor bebek, spatula ayre dan cytobrush, kaca slide, kaca benda dan larutan fiksasi standar yaitu alkohol 95%. Pembacaan slide dapat dilakukan dengan mengirimkan sediaan yang telah difiksasi tersebut ke rumah sakit rujukan yang mempunyai tenaga sitologi (skiner).

Salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah dengan menghilangkan larutan fiksasi, dan menggantikannya dengan melakukan rehidrasi dengan larutan normal salin ( Nacl 0,9%) pada sediaan yang telah dikeringkan di udara

Pemeriksaan sitologi diketahui sangat spesifik untuk lesi tinggi (HG-SIL), namun sensitivitasnya sangat bervariasi, dengan rata-rata sensitivitas 58%. Hal ini terutama disebabkan kesalahan pada proses pengambilan bahan, preparasi dan pembacaannya. Oleh karena itu dampak skrining sitologi untuk menurunkan angka kejadian kanker serviks hanya dapat dicapai dengan melakukan skrining dengan frekuensi yang tinggi. Kekurangan sumber daya di negara sedang berkembang memerlukan adanya inovasi-inovasi untuk meningkatkan frekuensi dan cakupan skrining sitologi ini (Saslow 2002).

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui perbandingan kualitas papsmear dengan menggunakan teknik rehidrasi sediaan kering dibandingkan dengan sediaan basah. Penelitian yang dilakukan oleh Silvaraman G dan Krishnan R (2002) dengan hasil sediaan papsmear dengan teknik kering memiliki kualitas yang sama dibandingkan dengan teknik konvensional (teknik basah). Penelitian yang dilakukan oleh Gupta S dkk (2003) mendapatkan hasil kualitas papsmear dengan teknik kering sama baiknya dibandingkan dengan kualitas teknik basah bahkan ketidakpuasan teknik kering ini sangat rendah. Penelitian Situmorang (2006) mendapatkan hasil teknik sediaan kering memiliki kualitas yang sama baiknya dibandingkan dengan teknik basah, namun hasil yang diperoleh tidak terdapat perbedaan yang bermakna ditinjau dari segi densitas seluler, adanya artefak, latar belakang eritrosit yang mengganggu, adanya latar belakang sel radang yang menggangu. Krit Jaiwong dkk (2006) memperoleh hasil penelitian kualitas teknik kering lebih rendah dibandingkan dengan kualitas teknik basah.

Pengambilan sediaan pap smear

Pengambilan sediaan pap smear akan mendapatkan hasil yang representatif apabila mencakup sel metaplasia atau sel endoserviks dengan demikian pengambilan sediaan harus di sekitar sambungan skuamosa-kolumnar (SSK). Spatula ayre banyak dipakai untuk mengambil sediaan papsmear, meskipun sekitar 40% tidak mencakup sel endoserviks.Di daerah SSK atau daerah tranformasi terjadi perubahan sel dari tingkat metaplasia, displasia ringan, displasia sedang, displasia berat sampai terjadi karsinoma insitu. Peranan mutagen yang diduga bahwa infeksi virus HPV memegang peranan penting terutama tipe 16,18, 31, 45. Metaplasia adalah transformasi dari satu tipe sel matur ke tipe sel matur kedua. Displasia sudah terjadi gangguan maturasi epitel sel, tetapi belum terjadi perubahan ke arah karsinoma. Derajatnya tergantung tebal epitel dan kelainan pada sel skuamosa. Karsinoma in-situ terjadi gangguan maturasi sel epitel skuamosa tetapi membrana basalis masih utuh. (Kurman, 1994, Andrijono 2006, Nuranna 2006).

Pengambilan sediaan pap smear tidak boleh dikerjakan selama menstruasi atau perdarahan karena dapat mengurangi sensitivitas skrining. Waktu yang paling baik pengambilan sediaan dilakukan antara hari ke-7 sampai dengan hari ke -15. Bila ada infeksi saat pemeriksaan pap smear maka harus diterapi dahulu, karena jumlah sel radang yang terlalu banyak dapat menggangu penilaian sediaan. Sitologi serviks dipengaruhi oleh kehamilan dan laktasi, karena meningkatkan risiko negatif palsu. Pap smear sebaiknya tidak dikerjakan pada wanita hamil dan tiga bulan pasca melahirkan. Wanita yang pernah dilakukan bilas vagina (kurang 24 jam), riwayat biopsi, konisasi, krioterapi dapat meningkatkan penilaian negatif palsu. Kesalahan laboratorium seperti pewarnaan sediaan serta kesalahan interpretasi juga bisa menyebabkan hasil negatif palsu. Suatu laboratorium sitologi yang baik bila memberikan hasil negatif palsu tidak lebih 10%, oleh sebab itu perlu pengawasan dan perhatian kualitas sediaan.

Sistem Bethesda 2001 menyebutkan kriteria adekuasi sediaan tidak memuaskan bila saat pengambilan sediaan terlalu tipis, tidak di oleskan merata, atau terlalu tebal sehingga menggagu penilaian. Adekuasi sediaan yang memuaskan bila jumlah sel endoserviks atau sel metaplasia minimal 10, jumlah sel skuamosa 10 % dari seluruh apusan sel, jumlah sel radang <75%, eritrosit <75%, tidak ada sel skuamosa yang lisis.

Fiksasi sediaan pap smear

Fiksasi bertujuan agar sel-sel tidak cepat mengalami kerusakan. Hal yang paling sering mempengaruhi adalah adanya artefak akibat pengeringan udara. Sediaan terlalu lama diluar tidak segera di rendam dalam alkohol 95%. Pengambilan sediaan yang tidak layak banyak dipengaruhi cara fiksasi sediaan. Fiksasi dengan alkohol 95% yang sering disebut dengan sediaan basah sudah umum dikerjakan, sedangkan fiksasi dengan NaCl atau sediaan kering belum banyak dikenal.

Pengaruh fiksasi dengan Nacl

Pemberian larutan salin pada sediaan kering sangat mempengaruhi hasil pembacaan sediaan papsmear. Sediaan pap smear yang telah diambil terlebih dahulu di keringkan di udara selama 30 menit sampai dengan 24 jam selanjutnya direhidrasi dengan larutan normal salin. Pengaruh pemberian larutan normal salin pada kualitas sediaan dan jumlah sel darah merah. Sel darah merah akan tidak tampak pada sediaan kering dibandingkan dengan sediaan basah, sedangkan kepuasan pembacaan hasil sitoplasmik memiliki hasil yang sama baiknya dengan teknik konvensional, bahkan pembacaan sitoplasmik pada teknik kering lebih baik dibandingkan dengan teknik basah dengan hasil yang lebih memuaskan (Sivaraman, 2002,Dalstrom, 2003, Gupta , 2003)

Perbandingan Papsmear sediaan kering (air-dried pap smears) dan sediaan basah (konvensional)

1. Teknik basah ( konvensional)

Pemeriksaan papsmear yang rutin dikerjakan adalah dengan menggunakan teknik basah (konvensional) yaitu dengan fiksasi alkohol (etanol) 95%. Teknik ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain bila fiksasi yang kurang baik akan timbul artefak, sehingga menurunkan kualitas hasil pembacaan, apalagi pengambilan sampel dikerjakan oleh tenaga yang tidak terampil. Beberapa penulis menyebutkan teknik kering memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan teknik basah, karena memiliki kemudahan dalam pembacaanya karena terjadi lisis sel-sel darah merah (Mindy, 2003 Krit, 2006).

2. Teknik kering (air-dried)

Teknik ini merupakan bagian dari papsmear dan sangat baik dipergunakan untuk visualisasi morfologi sel karena dapat memberikan gambaran sel (nuclear) lebih rinci. Teknik ini sangatlah sederhana dan mudah dikerjakan. Perbedaan dengan teknik konvensional adalah terletak pada larutan yang dipakai untuk fiksasi sediaan. Pada teknik ini menggunakan fiksasi dengan menggunakan larutan normal salin dengan mengeringkan sediaan di udara terlebih dahulu. Setelah sediaan diambil lalu dikeringkan di udara selama 30 menit sampai dengan 24 jam, selanjutnya sediaan tersebut diberikan tetesan larutan normal salin. Pada teknik ini hasil yang diperoleh sama baiknya dengan teknik konvensional (Sivaraman, 2002,Dalstrom, 2003, Gupta , 2003)

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...