Senin, Mei 28, 2012

Metode untuk Penilaian Prolaps Organ Panggul

POPQ untuk penilaian prolap organ panggul

Prolaps Organ Panggul merupakan Turunnya uterus, kandung kemih, uretra, anorektal, dan puncak vagina ke dalam vagina. Penyebab dan faktor yang dapat menimbulkannya adalah:

Kelemahan/kerusakan dasar panggul

¨ Kehamilan

¨ Persalinan vaginal

¨ Persalinan dengan tindakan

¨ Multiparitas.

¨ Riwayat operasi prolaps organ genetalia

¨ Kongenital

¨ Obesitas,

¨ Peningkatan tekanan intraabdomen,

¨ Ras Kaukasian,

¨ Menopause

¨ Status hipoestrogen,

¨ Aktivitas angkat berat,

¨ Penyakit paru kronik

Diagnosis

Anamnesis

• gejala herniasi,

• nyeri punggung,

• rasa tertekan berat dan penuh pada perut,

• kesulitan defekasi, berkemih, berjalan, dan bersenggama

Tanda: Benjolan di vagina

Pemeriksaan fisik

• Pemeriksaan fisik umum, mencari kelainan medis lain yang merupakan faktor predisposisi

Pemeriksaan Ginekologi

• Menilai hiatus genitalis, keadaan perineum dan dinding vagina

• Menilai prolaps uteri

• Menilai keadaan serviks

• Melakukan tes Valsava dan menilai penonjolan pada dinding vagina

• Menilai kelainan genitalia interna

• Menentukan derajat prolaps dengan sistem Baden Walker dan POPQ (Pelvic Organ Prolaps Quantification)

Pemeriksaan Baden-Walker:

0: tidak ada prolaps

I: ujung prolaps turun sampai setengah dari introitus

II: ujung prolaps turun sampai introitus

III:ujung prolaps setengahnya sampai di luar vagina

IV:ujung prolaps lebih dari setengahnya ada di luar vagina

 

clip_image004

POPQ

popq2

 

Macam prolaps

Prolaps uteri, sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel, prolaps puncak vagina.

Pengelolaan

Konservatif

1. Latihan otot dasar panggul atau latihan Kegel

Dilakukan pada prolaps stadium 1 dan 2

2. Menghilangkan faktor risiko

3. Pesarium: digunakan pada prolaps stadium 2 dan 3, kontraindikasi operasi, menolak operasi, hamil.

Operatif

Tujuan adalah memperbaiki anatomi, fungsi, dan menghilangkan keluhan.

a. Total vaginal histerektomi

b. Operasi obliterasi atau kolpokleisis parsial (Le Fort)

c. Operasi restorasi:

suspensi ligamen sakrospinosus

suspensi fasia ileokoksigeus

suspensi ligamen sakrouterina

Purandare

d. Operasi lain:

kolporafi anterior

kolporafi posterior

perineorafi

Tanda:

- perasaan berat dan penuh pada area pelvis

- benjolan vagina

- benjolan organ yang keluar dari vagina

- perasaan tertarik atau nyeri atau tekanan pada abdomen bagian bawah atau pelvis

- nyeri punggung bawah

- inkontinensia urin atau masalah pada gerakan usus

- harus mendorong organ ke dalam vagina untuk mengosongkan kandung kemih atau untuk memperbaiki gerakan usus

- kesulitan seksual

- kesulitan dalam memasukkan tampon atau aplikator

- tekanan pelvis yang memburuk dengan posisi berdiri, mengangkat, batuk atau seiring pertambahan waktu

1. Prolap Uteri

Ialah turunnya uterus ke dalam vagina. Panjang uterus yang turun dapat terjadi dalam berbagai derajat keparahan.

2. Prolaps puncak vagina

Ialah turunnya puncak vagina akibat kehilangan penyokong. Hal ini sering terjadi pada wanita yang dilakukan histerektomi, yang akan mempengaruhi fungsi berkemih, pencernaan dan seksual.

3. Sistokel

Sistokel terjadi ketika kandung kemih turun dari tempat asalnya ke dalam vagina. Dapat terjadi ngompol jika terjadi tekanan abdomen yang disebabkan aktifitas berjalan, tertawa, mengangkat atau bersin. Pada beberapa wanita sistokel dapat menyebabkan tekanan pada uretra dan menyebabkan masalah berkemih.

4. Uretrokel

Terjadi ketika uretra menonjol dalam vagina.

5. Rektokel

Terjadi ketika rectum menonjol ke dalam vagina. Dapat menyebabkan gangguan pada gerakan usus, terutama jika pasien menderita konstipasi.

6. Enterokel

Terjadi ketika usus halus mendorong dinding belakang vagina dan menyebabkan benjolan pada daerah tersebut.

Rujukan

1. Rojas F, Cundiff G. Urogynecology and reconstructive pelvic surgery. In: The John Hopkins manual of gynecology and obstetrics 3rd ed. Lippincott William&Wilkins 2007:330-41

2. Biller D, Davila GW. Management of genital prolapse. In: Practical guidelines to female medicine. Taylor & Francis. United Kingdom 2006: 169-82



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...