Jumat, Februari 03, 2012

Beberapa faktor yang mendasari terjadinya Preeklampsia dan Eklampsia

Penelitian mengenai abnormalitas baik pada faktor maternal, paternal maupun faktor janin sebagai penyebab preeklamsia masih menjadi pertanyaan, dan selama ini masih diasumsikan bahwa patofisiologi preeklamsia ini terdiri dari 2 tahap. Tahap pertama ialah kegagalan remodeling pembuluh darah trofoblas, karena terjadi kegagalan inilah mengakibatkan pasien jatuh pada kondisi tahap kedua yaitu tahap gejala klinis. Yang tidak kalah pentingnya, kondisi pada tahap kedua sangat dipengaruhi keadaan ibu sebelumnya, misalnya penyakit jantung atau ginjal, obesitas, diabetes maupun faktor keturunan (Cuningham, 2010).
Pada tahap pertama, karena terjadi kegagalan pada remodeling arteria spiralis mengurangi aliran darah uteroplasenter dan menyebabkan perfusi ke plasenta yang irregular. Kondisi hipoksia menyebabkan plasenta jatuh dalam kondisi stress oksidatif dan disfungsi plasenta, sehingga terjadi gangguan pada retikulum endoplasma dan terjadi perubahan sintesis protein didalamnya. Penyebab terjadinya tahap pertama yang belum teridentifikasi secara jelas bisa jadi melibatkan respon imun maternal.
Pada tahap kedua yang telah melibatkan kondisi sistemik maternal, berhubungan dengan aktivasi endothelial dan kondisi hiperinflamasi bila dibandingkan dengan kehamilan normal. Keadaan hipoksia plasenta atau reperfusi plasenta mengakibatkan stress oksidatif, apoptosis dan nekrosis pada jaringan sinsitial serta menstimulasi berbagai macam komponen sitokin inflamasi kedalam sirkulasi maternal (Steegers, 2010).
Diawal kehamilan, arteri uteroplasenta mengalami perubahan secara spesifik, yang terdiri dari 1) perubahan posisi endothelium dan sel otot polos melalui invasi trofoblas, 2) elastisitas yang menghilang, 3) dilatasi dan hilangnyanya kontraktilitas, 4) kehilangan control vasomotor. Telah menjadi kesepakatan bersama bahwa dalam proses remodeling arteri spiralis akan mengurangi resistensi aliran darah maternal serta meningkatkan perfusi uteroplasenta untuk memenuhi kebutuhan janin
preeklampsia
Gambar 1. Skema terjadinya perubahan pada sinsiotrophoblast kehamilan normal dan permulaaan terjadinya preeklamsia pada kehamilan (Sumber: Huppertz, 2008)
Berkurangnya invasi trofoblas dan tidak adanya perubahan spesifik yang telah disebutkan diatas terjadi pada kasus IUGR yang sering muncul bersama dengan kasus preeklamsia. Oleh karena itu, invasi trofoblas endovaskuler pada pasien preeklamsia menjadi fokus penelitian. Hipotesis yang saat ini diterima ialah berkurangnya invasi trofoblas endovaskuler serta remodeling arteri spiralis sebagai faktor kunci kejadian IUGR dan preeklamsia. Namun, hipotesis mengenai mekanisme molekuler yang meregulasi invasi trofoblas dan remodeling arteri uteroplasenta masih menjadi kontroversi (Kaufmann, 2003).
Proses remodeling terdiri dari beberapa tahapan. Pada langkah pertama terjadi di sekitar lokasi implantasi. Gangguan pada tahap ini meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia. Perubahan vaskuler pada desidua meningkat pada junctional zone, yang kemudian diikuti dengan proses invasi trofoblas. Interaksi antara trofoblas HLA-C, HLA-E dan HLA-G dengan natural killer cell atau dendritic cell atau interaksi dengan keduanya, sangat penting dalam regulasi invasi trofoblas. Kombinasi antara HLA-C dan reseptor killer cell immunoglobuline-like meningkatkan risiko preeklamsia (Steegers, 2010)
Aliran intervili dimulai pada usia kehamilan 7-8 minggu dimana tampak adanya hubungan antara arteri spiralis dengan lakuna pada dinding dimana blastula berimplantasi. Penutupan (plugging) trofoblas diawal proses invasi dapat mengendalikan konsentrasi oksigen yang didapat oleh embrio. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan, pelepasan plugging yang terlalu dini, berhubungan dengan kejadian preeklamsia (Steegers, 2010).
Plasenta wanita yang menderita preeklamsia menunjukkan frekuensi infark serta proses apoptosis yang lebih luas bila dibandingkan dengan plasenta wanita dengan kehamilan normal. Plasenta yang diambil dari wanita dengan preeklamsia menunjukkan ekspresi protein antiapoptosis, dari kelompok Bcl-2 yang rendah. Aktivitas apoptosis yang tinggi pada plasenta wanita dengan preeklamsia menghambat invasi trofoblas kedalam arteri spiralis dengan cara meningkatkan apoptosis sel-sel trofoblas (Levy, 2005).


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...