Selasa, Desember 20, 2011

SKRINING UNTUK KEGANASAN GINEKOLOGI UTAMA YANG DIDERITA WANITA: TUNTUNAN TERKINI

skrining kanker

Banyak wanita usia reproduksi dan perimenopause serta postmenopause percaya kepada para ahli obstetri-ginekologi untuk memberi pelayanan kesehatan primer dan preventif. Oleh karena itu para ahli obstetri-ginekologi sebaiknya sangat mengerti riwayat yang berisiko terhadap keganasan utama pada wanita. Sesama pelayan kesehatan sebaiknya terus-menerus meningkatkan kemampuannya dalam memilih protokol deteksi terbaik untuk kebutuhan pasien berdasarkan riwayat pribadinya yang berisiko.

 

Ketepatan protokol skrining tergantung pada riwayat alamiah dan sifat biologis keganasan atau bagian premaligna, seperti kemanjuran tes yang telah digunakan untuk menskrining kanker. Kanker, yang idealnya diskrining termasuk mereka dengan stadium laten presimtomatis, jika ditangani dengan baik akan mempengaruhi hasil. Protokol skrining yang optimal termasuk tes yang efektif biaya, sensitif, spesifik, dan bebas resiko serta punya nilai prediksi positif dan negatif yang dapat diterima, ketika digunakan pada skrining berdasar populasi.

Jika jumlah keuntungan dari skrining sangat jelas dan didukung oleh hasil yang terkontrol, penelitian prospektif yang menunjukkan pengurangan kematian dalam populasi yang diskrining, protokol tersebut kemudian dapat dipilih oleh para klinisi dan disahkan oleh organisasi yang terdiri dari para ahli di lapangan. Sayangnya, tidak adanya benchmark randomized study sering membatasi perkembangan penuntun skrining dalam populasi umum. Akibatnya, para dokter harus menuntun pasien beresiko berdasarkan sedikit bukti yang dipaksakan dan mengakui kemungkinan bahwa tes tersebut mungkin tidak efektif biaya dan berbahaya.

Referat ini membahas tentang epidemiologi dan faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kanker ginekologi utama (serviks, endometrium, dan ovarium). Angka perkiraan wanita yang mengidap bermacam jenis kanker akan bertambah dan angka kematian yang telah diperhitungkan yang berhubungan dengan keganasan tersebut dapat dilihat di tabel I. Sebagai tambahan, ditampilkan pula prinsip skrining terkini. Rangkuman penuntun skrining ditampilkan pada tabel II.

Tabel I. Perkiraan insidensi kematian karena keganasan pada wanita tahun 2000.

Jenis kanker

Jumlah kasus baru

Jumlah kematian

Payudara

Paru

Kolon

Endometrium

Ovarium

Serviks

182.800

74.600

50.400

36.100

23.100

12.800

40.800

67.600

24.600

6.500

14.000

4.600

Data from Greenlee RT, Murray T, Bolden S, Wingo PA. Cancer statistics, 2000. CA Cancer J Clin 2000;50:7-33.

Kanker Serviks

Skrining kanker serviks dengan tes Papanicolaou telah disahkan oleh American Cancer Society (ACS) sejak 1957, dan keberhasilan skrining untuk keganasan Ca serviks digunakan sebagai model skrining berdasar populasi.

Keberhasilan skrining Ca serviks difasilitasi oleh banyak aspek riwayat alamiah dari perjalanan penyakit, seperti sifat khas dari tes Papanicolaou. Ca serviks relatif sering, dengan 12.800 perkiraan kasus baru dan 4600 kematian di USA tahun 2000.1 Penyakit ini memungkinkan untuk diskrining dengan tingkat harapan hidup yang besar dihubungkan dengan stadium kanker saat terdiagnosa, tidak seperti kanker lainnya, ditandai asimptomatis, preinvasif, fase laten yang mudah ditangani. Tes Papanicolaou tidaklah mahal, banyak tersedia, mudah digunakan, serta spesifik dan sensitif.

Faktor resiko Ca serviks telah diketahui, yang paling bermakna termasuk aktivitas seksual dini, banyak pasangan seksual, merokok, dan status imun. Karena perkembangan faktor resiko Ca serviks berhubungan langsung dengan aktivitas seksual, tidaklah mengejutkan muncul agen spesifik yang bertanggungjawab akan transformasi neoplasma pada epitel serviks dimana merupakan penyakit seksual menular virus terbanyak, yaitu human papillomavirus (HPV). Terinfeksi HPV merupakan resiko Ca serviks terutama, dan banyak penelitian epidemiologi menunjukkan kriteria yang kuat dan konsisten untuk mendukung hubungan penyebabnya.2

Walaupun penelitian secara random belum pernah dilakukan untuk mengkonfirmasikan kemanjuran skrining tes Papanicolaou, hal ini telah banyak diterima olah komunitas medis dan pasien secara luas sebagai akibat banyaknya kejadian tak langsung yang kuat akan keefektifannya. Sejak pengenalan skrining Papanicolaou, kematian akibat Ca serviks berkurang lebih dari 40%.1 Hal ini ditunjukkan dengan tes Papanicolaou yang berhasil mengurangi insidensi dan jumlah kematian akibat Ca serviks, dimana penelitian secara random tidak dapat dilakukan karena alasan tidak etis.

US Preventive Services Task Force menyatakan pelaksanaan skrining Ca serviks secara rutin pada urutan “A”.2 “A” menunjukkan rekomendasi terkuat yang mendukung kesimpulan dari tes skrining pada sebuah pemeriksaan kesehatan periodik rutin. Organisasi lain yang mengesahkan sebuah anjuran konsesus bahwa semua wanita yang aktif secara seksualnya dan yang berusia lebih dari 18 tahun sebaiknya menjalani tes Papanicolaou, yaitu ACS, Institut Kanker Nasional, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), dan Asosiasi Medis Amerika, dan lainnya.2 Banyaknya penurunan insidensi Ca serviks dan kematiannya telah disadari sejak pengenalan akan tes Papanicolaou di negeri ini, Ca serviks belum dapat dibasmi. Sayangnya, di negara berkembang skrining masih menjadi masalah. Di USA, sekitar 50% dari kasus yang dilaporkan, Ca serviks terjadi pada wanita yang belum pernah tes Papanicolaou. Terbatasnya keakuratan tes Papanicolaou ikut menggagalkan skrining. Rerata negatif palsu terukur antara 3-30%, dan perlu usaha untuk terus mengembangkan teknologi terbaru yang akan menambah sensitivitas pada jaringan eksfoliasi. Muncul tiga teknologi yang menjanjikan yaitu koleksi sampel berdasar cairan, automated sitologi, dan tes HPV.2

Teknologi Papanicolaou berdasar cairan dirancang untuk mengoptimalkan koleksi sel epitel untuk memperlihatkan jaringan dengan mengurangi artifak udara kering, sel radang, darah, dan mukous. Sistem Thinrep (Cytec, Marlboro, Mass) menyaring sampel dan memilih 50.000-70.000 sel epitel dan membaginya menjadi 1 lapis pada slide. Dengan mengurangi faktor yang tidak jelas, teknologi ini membuat spesimen lebih baik dan mengurangi jumlah diagnosa negatif palsu. Sistem Thinrep ini telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration) yang digunakan untuk skrining Ca serviks.

Karena subtipe virus HPV digolongkan sebagai berpotensi onkogenik, tes untuk subtipe HPV disadari sebagai strategi skrining yang potensial. Prevalensi 30% HPV pada wanita sehat terutama pada mereka yang tidak muncul keganasan serviks, kenyataannya tidak perlu alat skrining populasi masal. Namun, tes untuk resiko tinggi subtipe HPV sebagai tuntunan terapi untuk pasien dengan sel atipi yang kemaknaannya tidak dapat ditentukan dan lesi intra epitel skuamosa derajat ringan, berpotensi sebagai tambahan yang berguna pada teknologi ini dan penelitian-penelitian selanjutnya.2

Kesimpulannya, tes Papanicolaou menunjukkan tes skrining terefektif dalam mencegah kematian pada Ca serviks. Meskipun tes Papanicolaou sukses sebagai contoh dalam mengurangi kematian akibat Ca serviks, penyakit ini belum dapat dibasmi, usaha-usaha harus terus dilanjutkan untuk meminimalkan hambatan yang dapat menghambat skrining dan dalam melanjutkan peningkatan sensitifitas skrining.

Ca Endometrium

Ca endometrium merupakan keganasan ginekologi terbanyak di USA yang diperkirakan 36.100 kasus baru di tahun 2000.1 Untungnya, rasio kematian dengan insidensi penyakit ini diperkirakan hanya 6.500 kematian di tahun ini.1 Kematian akibat penyakit ini rendah, tampak banyak karena sudah tampak gejala di awal stadium. Ca endometrium mula-mula muncul seperti postmenopause atau perdarahan uterine yang abnormal, yang perlu dievaluasi dengan pengambilan sampel endometium. Namun banyak kasus yang terdiagnosis hanya terbatas pada uterus, diagnosa ini membuat angka harapan hidup yang dapat diantisipasi hingga lebih dari 90%.1

Faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan Ca endometrium telah diketahui dan terutama berpusat di sekitar kondisi yang mengakibatkan tingginya kadar estrogen. Contohnya pada pemberian estrogen endogen, obesitas, anovulasi kronis, diabetes, tumor yang mensekresi estrogen, dan penggunaan tamoxifen. Hanya Ca kolorektal poliposis herediter atau sindroma Lynch tipe II yang jelas diketahui sebagai sindroma Ca herediter dimana beresiko tinggi terhadap Ca endometrium.5

Tingginya prevalensi Ca endometrium, adanya lesi terdahulu (hiperplasi endometrium atipi), mudahnya pengambilan sampel endometrium, dan mudahnya penyembuhan pada stadium awal, ini semua membuat Ca endometrium berpotensi untuk dilakukan skrining berdasar populasi. Namun, dengan mengesampingkan manifestasi perdarahan, pada stadium awal dan angka kesembuhan tinggi membuat Ca endometrium tidak perlu dilakukan skrining awal berdasar populasi. Karena inilah, tidak ada penelitian utama yang menunjukkan kemanjuran tes skrining pada wanita tanpa gejala. Lagipula skrining berdasar populasi tidak dianjurkan dan tidak ada konsensus yang menganjurkan skrining untuk penyakit ini.6

Meskipun demikian, hal tersebut dapat dilakukan mengingat resiko tinggi di populasi, seperti wanita dengan penyakit herediter yang dapat menjadi Ca endometrium, wanita pengguna tamoxifen, atau wanita dengan sindroma polikistik ovarium. Pemeriksaan skrining yang perpotensi untuk Ca endometrium adalah pengambilan sampel endometrium, sitologi, dan transvaginal ultrasonography (TVS).

Kriteria standar untuk mendeteksi Ca endometrium adalah dengan kuretase. Karena masalah biaya, ketidaknyamanan, prosedur yang tidak menyenangkan, kuretase telah diganti dengan bermacam metode yang lebih baik dalam pengambilan sampel endometrium. Keakuratan biopsi endometrium sangatlah tinggi. Namun, karena kerugian akibat ketidaknyamanan serta kurangnya pengetahuan akan efisiensi pada masyarakat tanpa gejala, biopsi endometrium tidak digunakan dalam skrining.

Tes Papanicolaou, walau telah dilaporkan dapat mendeteksi Ca endometrium, berhubungan dengan kurang optimalnya sensitivitas untuk tujuan skrining. Aspirasi endometrium telah dievaluasi sebagai alat untuk meningkatkan keakuratan penilaian sitologi dan telah dilaporkan sensitif untuk mendeteksi Ca setinggi 94% pada pasien bergejala Ca endometrium.2 Namun sensitivitas untuk mendeteksi hiperplasia sangat buruk, yaitu 31%, dan dari segi praktisnya, tiap hasil positif perlu dikonfirmasikan dengan biopsi endometrium, yang berefek ganda pada sejumlah preoperasi dengan cara invasif. Sangatlah penting untuk mengingat bahwa jaringan endometrium tidak digunakan untuk alat skrining pada wanita yang tidak mempunyai gejala Ca endometrium.

TVS digunakan sebagai metode noninvasif untuk memeriksa pasien yang bergejala Ca endometrium, dimana hanya sekitar 12,5% wanita dengan perdarahan postmenopause akan mengalami Ca endometrium.2Tebalnya lapisan endometrium dapat dengan mudah diukur dengan TVS, dan hubungan antara ketebalan lapisan endometrium dengan ketidaknormalan pada pasien postmenopause yang bergejala Ca endometrium, terdapat perbedaan bermakna. Suatu penelitian pada 1100 wanita dengan perdarahan postmenopause melaporkan tidak ada kasus Ca endometrium jika lapisan endometriumnya < 4mm. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa hal tersebut dapat dipakai untuk tidak mendiagnosa kanker pada pasien dengan gejala Ca endometrium.2

Karena para ahli obstetri-ginekologi sering dikonsultasikan mengenai skrining untuk Ca endometrium pada wanita pengguna tamoxifen, sangatlah penting untuk mengetahui penggunaan TVS. Keberatan utama yang berhubungan dengan penggunaan USG pada kelompok target ini adalah karena berubahnya penampakan lapisan endometrium pada 2/3 wanita pengguna tamoxifen yang tidak signifikan terhadap penyakit endometrium. Namun tidak ada parameter untuk ketebalan lapisan endometrium yang normal pada wanita pengguna tamoxifen. Perlu direkapitulasi riwayat alamiah Ca endometrium pada pasien yang menerima tamoxifen pada sebagian besar populasi karena penyakit ini dapat dideteksi awal dengan prognosis yang baik. Sebagai akibatnya, saat ini banyak ahli setuju bahwa skrining untuk Ca endometrium pada pasien pengguna tamoxifen tidak perlu. Adalah bijaksana menasehati pasien yang 2-3 kali lebih beresiko untuk terkena Ca endometrium yang berhubungan dengan penggunaan tamoxifen dan untuk meninjau indikasi pengambilan sampel endometrium; pada waktu yang bersamaan pasien harus diberitahu fakta bahwa kegunaan terapi pada beberapa pasien jelas meningkatkan resiko perkembangan Ca endometrium.2

Kesimpulannya, prognosis yang baik pada kasus Ca endometrium utama sebagai akibat gejala perkembangan awal, skrining berdasar populasi tidak menghasilkan penurunan rerata kematian. Walau pada individu beresiko tinggi, skrining untuk Ca endometrium kini tidak dianjurkan dan pengambilan sampel haruslah dengan bijaksana pada wanita yang bergejala Ca endometrium.

Ca Ovarium

Riwayat alamiah Ca ovarium, keterangan tentang stadium penyakit saat dideteksi dan harapan hidupnya, memberikan antithesis akan hubungannya dengan Ca endometrium. Ca ovarium di Amerika Utara terus bertambah tiap tahunnya dibanding keganasan ginekologi lainnya. ACS memperkirakan 23.100 kasus baru Ca ovarium terdiagnosa di tahun 2000 dan 14.000 kematian akan terjadi akibat penyakit ini.1 Tingginya rasio kasus dengan kefatalannya, berhubungan dengan Ca ovarium karena kurangnya gejala pada stadium awal keganasan yang terbatas pada ovarium, dapat diantisipasi memiliki angka harapan hidup 95%.1

Kebanyakan wanita dengan Ca ovarium tidak punya faktor resiko yang jelas, lagipula patogenesis penyakit ini masih belum jelas. Namun, beberapa faktor resiko telah menjadi nyata, faktor resiko paling bermakna adalah predisposisi genetik. Hingga 10% kasus Ca epitel ovarium dalam suatu keluarga, 90% karena mutasi kuman pada gen BRCA 1 maupun BRCA 2. Pengetahuan kami akan kebenaran resiko Ca ovarium dan Ca payudara pada pembawa mutasi kuman terus berkembang, tapi perkiraan terkini akan resiko Ca ovarium pada wanita yang mempunyai mutasi BRCA 1 adalah 40%-60%.7Faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko relatif yaitu tinggal di Amerika Utara atau Eropa Utara, nuliparitas, dan riwayat pribadi akan Ca payudara, kolon, dan endometrium.

Banyaknya penderita akibat Ca ovarium dan gradien harapan hidup yang jelas berhubungan dengan stadium penyakit saat terdiagnosa, membuat banyak yang antusias untuk meningkatkan cara skrining yang strategis sebagai pendeteksi awal. Namun hingga kini tidak ada tes skrining maupun kombinasinya yang ditunjukkan oleh suatu penelitian random atau melalui bukti kuat tak langsung dalam hal penurunan kematian akibat Ca ovarium. Kini ACOG kembali menganjurkan skrining berdasar populasi untuk Ca ovarium. National Institutes of Health Consensus Conference pada Ca ovarium menganjurkan menyertakan riwayat keluarga dan pemeriksaan pelvis tiap tahun. US Preventive service Task Force menyatakan pelaksanaan skrining Ca serviks secara rutin pada urutan “D”, yang ditetapkan sebagai pemeriksaan kesehatan berkala.2

Beberapa aspek Ca ovarium yang membingungkan telah ditemukan dalam percobaan untuk menyaring penyakit tersebut. Pertama, lokasi anatomi ovarium tidak dapat diterima pada inspeksi langsung. Sebagai tambahan, berbeda dengan keganasan serviks, Ca epitel ovarium hanya ada sedikit tanda lesi dan sedikit riwayat alamiah yang ditetapkan. Waktu yang dibutuhkan untuk penyakit ini pada saat masih terlokalisir hingga menyebar, belumlah jelas; namun ketepatan interval pada skrining yang dipilih saat ini masih berubah-ubah. Halangan lainnya berhubungan dengan prevalensi yang rendah akan Ca ovarium dalam masyarakat luas. Keperluan skrining ini untuk menghindari tindakan operasi yang tidak perlu. Spesifisitas yang kurang optimal mengacu pada kepentingan perseorangan dan biaya finansial yang dapat tidak diterima bila mempertimbangkan keuntungan dari skrining. Kritik evaluasi tentang tidak tersedianya modal skrining memberi kesimpulan bahwa skrining rutin untuk Ca ovarium saat ini tidak dianjurkan, tetapi terus diusahakan untuk menemukan modal skrining dan penggunaan terbaru untuk skrining pada populasi beresiko tinggi.

Metode mahal untuk menggali skrining Ca ovarium seperti tumor markers, terutama CA 125 serum, dan TVS. CA 125 serum merupakan penelitian tumor marker termahal pada skrining Ca ovarium. Ketertarikan pada marker ini sebagai modal skrining dimulai saat ditemukannya kadar CA 125 serum yang meningkat pada 82% wanita dengan Ca ovarium tapi lebih sedikit dari 1% pada wanita yang dianggap sehat. Penelitian JANUS melengkapi bukti tersebut bahwa kadar CA 125 mungkin dapat menunjukkan pola yang meningkat pada beberapa periode waktu sebelum Ca ovarium muncul secara klinis. Walau ini ditemukan, kegunaan CA 125 untuk mendeteksi Ca ovarium preklinik dibatasi oleh kurang sensitifnya pada stadium I dan kurang spesifik pada kenaikan marker pada banyak kondisi jinak dan keganasan.8

Tanpa menghiraukan keterbatasan tersebut, 2 percobaan skrining besar di Eropa telah selesai mengevaluasi CA 125 sebagai tes pilihan pertama, dengan TVS yang menunjukkan nilai tidak normal. Penelitian pertama ini telah dilaporkan oleh Einhorn dkk.2 Pada penelitian tersebut, 5500 wanita diskrining dengan CA 125. Dari 175 wanita dengan peningkatan kadarnya dilanjutkan dengan CA 125 dan TVS, 16 laparatomi dilakukan pada mereka yang mempunyai hasil tidak normal. Enam kasus Ca ovarium yang terdeteksi dalam stadium yang berbeda yaitu stadium I, II, dan III. Tiga kasus Ca ovarium terdiagnosa pada kelompok kontrol. Penelitian besar lainnya telah dilaporkan oleh Jacobs dkk,2 menyertakan 22.000 wanita postmenopause yang sehat. Sama seperti penelitian Stockholm, pasien dengan peningkatan kadar CA 125 menjalani TVS. Empat puluh satu pasien menjalani laparotomi, dan 11 ditemukan memiliki Ca ovarium. Sayangnya, Ca ovarium terjadi pada 8 wanita yang hasilnya negatif.

Kegunaan CA 125 terhambat oleh kurang spesifik, sensitif, dan nilai perkiraan, dengan perhitungan yang menggabungkan usia dengan rerata perubahan CA 125 dikembangkan untuk meningkatkan penampilan CA 125 sebagai alat skrining.

Asam Lisofosfatidil merupakan tumor marker baru yang menjanjikan dalam skrining Ca ovarium. Dalam sejumlah kecil kadar Asam Lisofosfatidil, meningkat 90% pada Ca ovarium stadium I dan 100% pada Ca ovarium stadium II, III, dan IV. Asam Lisofosfatidil menunggu disahkan oleh penelitian-penelitian yang lebih besar.

Pengalaman yang luas melaporkan penggunaan TVS untuk mengukur ovarium telah dilakukan oleh Van Nagell dkk dari Universitas Kentucky. Kelompok ini melaporkan seri awal terluas pada wanita yang tidak bergejala Ca ovarium diskrining dengan TVS. Seribu wanita > 40 tahun menjalani skrining TVS. Terdapat 31 yang terdeteksi abnormal dan 24 pasien menjalani laparotomi. Sebuah tumor Krukenberg terdeteksi, tapi tidak ditemukan kasus Ca ovarium primer. Karena ada sejumlah hasil laparatomi yang tidak dapat diterima untuk mendeteksi satu kasus keganasan, penelitian hanya fokus pada populasi postmenopause dan menentukan sifat morfologi ovarium.9

Pada kebanyakan penelitian terbaru dari Universitas Kentucky, hasil skrining TVS tahunan menampilkan 14.469 wanita tanpa gejala Ca ovarium. Pengamatan pada 57.214 pasien dan 180 pasien, sebagai subyek pada intervensi operasi. Tujuhbelas Ca ovarium terdeteksi: 11 pada stadium I, 3 stadium II, dan 3 stadium III. Pada penelitian ini TVS sebagai modal skrining berhubungan dengan sensitivitas 81%, spesifisitas 98,9%, nilai perkiraan positif 9,4%, dan nilai perkiraan negatif 99,97%. Setelah tidak menyertakan kasus nonepitelial dan tumor berpotensi keganasan yang rendah, harapan hidup pasien dengan Ca ovarium pada skrining tahunan populasi adalah 92,9% pada 2 tahun dan 83,6% pada 5 tahun. Hal ini dianjurkan karena skrining TVS tahunan telah mencapai tujuan utama sebagai pendeteksi awal penyakit ini, yang telah menurunkan kematian yang berhubungan dengan Ca ovarium. Namun, karena masalah biaya skrining TVS tahunan dan biaya intervensi operasi pada 10-11 wanita sebagai subyek untuk mengidentifikasi suatu kanker, masih membuat skrining populai masal dengan TVS tidak dapat diterima sebagai modal tersendiri.

Kesimpulannya, Ca ovarium adalah salah satu kanker penyebab utama kematian pada wanita. Penanganan Ca ovarium sangat mahal bagi masyarakat dan penderitaan yang besar bagi wanita dengan penyakit tersebut. Kini, metode skrining terbukti tidak adekuat sensitivitas maupun spesifisitasnya untuk mendeteksi Ca ovarium stadium awal. Tidak ada keraguan pada perkembangan strategi skrining baru, seperti pada langkah preventif, sangatlah diperlukan, dan jika berhasil, akan sangat berpengaruh pada kehidupan wanita.

Tabel II. Tuntunan terkini untuk skrining kanker ginekologi pada wanita

Jenis skrining

Tuntunan ACS

Anjuran ACOG

Ca serviks

Pemeriksaan pelvis dan apusan Papanicolaou

Ca endometrium

Ca ovarium

Tiap tahun pada setiap wanita yang aktif secara seksual atau sudah berusia 18 th

Tidak dianjurkan

Tidak dianjurkan

Sama seperti ACS

Tidak dianjurkan

Tidak dianjurkan

Kesimpulan

  1. Faktor resiko Ca serviks adalah aktivitas seksual dini, banyak pasangan seksual, merokok, dan status imun. Terinfeksi HPV merupakan resiko Ca serviks terutama.
  2. Tes Papanicolaou skrining terefektif dalam mencegah kematian pada Ca serviks. Usaha-usaha terus dilanjutkan untuk peningkatan sensitifitas skrining.
  3. Faktor resiko Ca endometrium adalah kondisi yang mengakibatkan tingginya kadar estrogen (pemberian estrogen endogen, obesitas, anovulasi kronis, diabetes, tumor yang mensekresi estrogen, dan penggunaan tamoxifen)
  4. Pemeriksaan skrining Ca endometrium adalah pengambilan sampel endometrium, sitologi, dan transvaginal ultrasonography (TVS). Kriteria standar dengan kuretase. Keakuratan biopsi endometrium sangatlah tinggi Aspirasi endometrium dapat mendeteksi Ca setinggi 94%, TVS digunakan sebagai metode noninvasif. Skrining untuk Ca endometrium tidak dianjurkan harus (wanita yang bergejala)
  5. Ca ovarium faktor resiko tidak jelas, patogenesis masih belum jelas juga. Faktor resiko yang paling bermakna adalah genetik. Faktor yang meningkatan resiko relatif adalah nuliparitas, dan riwayat pribadi akan Ca payudara, kolon, dan endometrium.
  6. Metode skrining Ca ovarium dengan tumor markers (terutama CA 125), dan TVS. CA 125 pemeriksaan mahal. Skrining rutin saat ini tidak dianjurkan, terus diusahakan skrining dan aplikasi baru.
  7. Perlu dikembangkan strategi skrining baru, asam Lisofosfatidil merupakan tumor marker baru yang menjanjikan. Skrining dengan TVS menurunkan kematian karena Ca ovarium tetapi karena masalah biaya TVS tidak dianjurkan.

Kepustakaan

  1. Greenlee RT, Murray T, Bolden S, Wingo PA. Cancer statistics, 2000. CA Cancer J Clin 2000;50:7-33.
  2. Pamela J. Paley, MD, the Department of Obstetrics and Gynecology, University of Washington,.Screening for the major malignancies affecting women: Current guidelines, Seattle, Whasington, 2001;184:1021-30
  3. Guppy, A.E, Rustin, G.J.S.,2002, Ca125 Response: Can it Replace the traditional response criteria ?, The Oncologist:7:437-443, www.TheOncologist.com
  4. Elise M Hughes-Watkins, M.D., Ovarian Cancer: Diagnosis and Screening in Primary Care, November 30 2001.
  5. Watson P, Vasen HF, Mecklin JP, Jarvinen H, Lynch HT. The risk of endometrial cancer in hereditary non polyposis colorectal cancer. Am J Med 1994;96:516-20
  6. ACOG Committee on Gynecologic Practice. Committee Opinion: routine cancer screening; No.: 185; 1997 Sept. In: The American College of Obstetricians and Gynecologists Women’Health Care Physicians. 2000 Compendium of Selected Publications.Washington: The College; 2000. p. 225-9.
  7. Boyd J. Molecular genetics of hereditary ovarian cancer. Oncology (Huntingt) 1998;12:399-406.
  8. Jacobs I, Bast RC Jr. The CA 125 tumour-associated antigen: a review of the literature. Hum Reprod 1989;4:1-12.
  9. Van Nagell JR Jr, Higgins RV, Donaldson ES, Gallion HH, Powell DE, Pavlik EJ, et al. Transvaginal sonography as a screening method for ovarian cancer: a report of the first 1000 screened. Cancer 1990;65:573-7.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...