Rabu, Desember 21, 2011

INTERVENSI NUTRISI SELAMA KEHAMILAN DALAM MENCEGAH MORBIDITAS MATERNAL DAN KELAHIRAN PRETERM

nutrition

Kebutuhan nutrisi wanita meningkat selama kehamilan. Peningkatan kebutuhan nutrisi ini melindungi kesehatan ibu dan mempengaruhi keluaran persalinan dan kesehatan bayi. Jika kebutuhan tidak tercukupi, berakibat serius terhadap ibu dan bayi.

 

Selama kehamilan semua wanita memerlukan lebih banyak makanan, diet yang bervariasi dan suplemen mikronutrien. Ketika energy dan asupan nutrisi lain tidak meningkat, tubuh akan menggunakan cadangan energinya, sehingga tubuh akan melemah. Kebutuhan energy meningkat pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Peningkatan berat badan selama kehamilan yang tidak adekuat sering menyebabkan terjadinya berat lahir rendah, yang meningktakan risiko kematian bayi. Wanita hamil juga memerlukan lebih banyak protein, besi, iodium, vitamin A, folat dan nutrisi lain. Defisiensi nutrisi tertentu berhubungan dengan komplikasi maternal kematian, kematian janin dan bayi, defek persalian, dan menurunkan kemampuan fisik dan mental bayi. Ada berbagai dampak malnutrisi ibu terhadap kesehatan maternal dan kesehatan janin serta bayi.

Kehamilan menjadikan wanita mengalami peningkatan risiko malnutrisi (mengalihkan nutrisi dari ibu ke bayi), komplikasi kehamilan dan keluaran kehamilan yang buruk. Kehamilan awal berperan terhadap siklus malnutrisi ibu melalui 2 cara, yaitu secara tidak langsung(indirek) melalui penghentian premature pertumbuhan ibu dan secara langsung (direk) melalui peningkatan risiko persalinan BBLR.

Kebutuhan nutrisi selama kehamilan dan laktasi adalah banyak mendukung pertumbuhan janin dan produksi asi. Penambahan kebutuhan nutrisi selama hamil dan laktasi ini terjadi pada tahap makronutrisi maupun mikronutrisi. Lebih banyak kalori diperlukan untuk mencapai penambahan berat badan yang cukup dan membuat simpanan/ cadangan untuk laktasi. Lebih banyak zat besi diperlukan karena pertumbuhan janin plasenta dan peningkatan volume plasma. Lebih banyak vitamin A diperlukan karena untuk memastikan kadar vitamin A yang cukup dalam asi. Siklus reproduksi yang intervalnya berdekatan, keseimbangan energy yang negative dan kekurangan nutrisi bisa menyebabkan pada kondisi sindrom deplesi maternal. Stress nutrisi terbesar dialami oleh wanita saat hamil dan laktasi.

Kebanyakan wanita di negara berkembang mengalami tekanan biologis dan social yang meningkatkan risiko malnutrisi, antara lain makanan yang tidak aman, diet/ asupan makanan yang kurang, infeksi berulang, perawatan kesehatan yang buruk, beban kerja yang berat, perbedaan gender. Pada wanita dewasa, indeks masa tubuh (IMT) digunakan sebagai indicator defisiensi energy kronis. Tingginya jumlah wanita yang memiiki IMT dibawah level ini pada negara berkembang menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi pada wanita adalaha masalah yang mengancam. Wanita yang mengalami defisiensi energi kronis akan mengalami kejadian infeksi yang lebih tinggi karena berkurangnya imunokompetensi, peningkatan risiko partus macet karena disproporsi antara ukuran kepala bayi dan jalan lahir, peningkatan risiko mortalitas, peningkatan risiko melahirkan BBLR, dimana BBLR merupakan faktor risiko tersering mortalitas neonatus dan bayi. Faktor nutrisi maternal bertanggung jawab terhadap 50% kejadian IUGR di negara berkembang. Kebanyakan BBLR dikarenakan IUGR. Ada hubungan yang kuat antara rendahnya berat dan tinggi badan sebelum hamil dengan angka kejadian IUGR, seperti ditunjukkan pada meta analisis 20 penelitian antropometri maternal dan keluaran kehamilan dari 20 negara (WHO, 2008). Rendahya asupan kalori merupakan faktor risiko utama yang mempengaruhi berat bayi, penentu terpenting kemampuan bayi untuk bertahan. BBLR yang merupakan dampak dari malnutrisi ibu (sebelum konsepsi maupun selama kehamilan) merupakan indikator tak langsung (indirek) terhadap status nutrisi ibu.

Mortalitas maternal cenderung tinggi pada area yang sebagian besar wanita mengalami kekurangan energy dan protein (KEP). Peranan malnutrisi yang mengganggu kesehatan maternal dan manusia seringkali disebutkan. KEP juga dianggap sebagai sebab utama mortalitas ibu.clip_image013

Dari tabel diatas didapatkan hasil angka insidensi preeklampsia pada kelompok yang diberi perlakuan kalsium adalah 119/4250 = 0,028. Sedangkan angka insidensi preeklampsia pada kelompok placebo/ kontrol adalah 170/4250 = 0,040. Angka insidensi pada kelompok placebo lebih besar daripada kelompok perlakuan (kalsium). Ini membuktikan bahwa suplemen kalsium efektif dalam mengurangi risiko preeclampsia.

Untuk mengetahui kekuatan dari efek terapi maka perlu dilakukan penilaian risiko relatif (relative risk). Risiko relative adalah perbandingan antara angka insidensi dalam kelompok perlakuan dengan angka insidensi pada kelompok placebo/ control. Jika risiko relatif = 1 , berarti tak ada bukti dari efek terapi (angka insidensi pada kelompok perlakuan dengan angka insidensi pada kelompok kontrol). Jika risiko relatif < 1, berarti terapi bisa menurunkan risiko penyakit, dan jika risiko relatif > 1 maka berarti terapi / perlakuan berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit. Pada perlakuan pemberian kalsium ini risiko relatifnya adalah 0,7 (0,028/0,04).

Pada outcome anemia dan perdarahan, angka insidensi pada kelompok yang diberi zat besi adalah 0,043 (38/881), sedangkan angka insidensi pada kelompok placebo adalah 0,23 (212/921). Sehingga risiko relatif terjadinya anemia dan perdarahan adalah 0,18 (CI : 0,13-0,24). Jadi pemberian zat besi efektif dalam mengurangi risiko terjadinya anemia dan perdarahan. Begitu juga pada pemberian asam folat maupun besi dan asam folat (bisa dilihat pada tabel.1).

clip_image021

Dari tabel diatas, nampak bahwa saran nutrisi (nutritional advice) memiliki efek protektif terhadap terjadinya kelahiran preterm (RR : 0,45 , CI : 0,22-0,92). Magnesium oral yang diberikan sebelum usia kehamilan 25 minggu berhubungan dengan pengurangan angka kelahiran preterm (p<0,01). Namun, hasil tersebut seharusnya di interpretasi secara hati-hati karena kebanyakan trial memiliki kelemahan metodologi dan trial dengan kualitas metodologi paling tinggi tidak menunjukkan efek pada pengurangan kejadian kelahiran preterm.

Berdasarkan data yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa masih terbatasnya bukti yang mendukung implementasi intervensi nutrisi skala besar (suplemen multivitamin, mineral dan energy serta protein) untuk mencegah penyakit hipertensi dalam kehamilan, partus macet, perdarahan, infekksi dan kelahiran preterm.

Wanita hamil di negara berkembang mengalami defisiensi berbagai nutris yang harus dikoresi status kesehatan dan outcome perinatal. Kalsium bermanfaat bagi wanita dengan asupan kalsium yang rendah yang berisiko besar terhadap terjadinya preeclampsia dan kelahiran preterm. Beta carotene dan vitamin A dapat mengurangi mortalitas maternal. Stress oksidatif dan aktifasi respon inflamasi berperan terhadap penurunan perfusi plasenta dan hal inilah yang mempengaruhi etiologi terjadinya preklampsia, sehingga terapi antioksidan bedampak terhadap penurunan angka kejadian preeklmpsia. Minyak ikan dan magnesium juga berperan mencegah kelahiran preterm. Besi dan asam folat efektif dalam mencegah atau mengobati anemia berat termasuk anemia pascasalin.

Untuk penilitian mendatang, strategi terbaik mampu melanjutkan menguji efek intervensi pada populasi dengan atau tanpa defisiensi nutrisi pada uji multicenter yang luas yang memerlukan waktu yang singkat. Namun juga harus berpegang pada konteks bahwa kebanyakan kondisi terkait kehamilan seperti preeclampsia, perdarahan postpartum, kelahiran preterm, dan inisiasi persalinan, kita masih memiliki keterbatasan pengetahuan tentang etiologi dari kejadian tersebut. Pilihan terapi untuk kondisi-kondisi diatas juga masih terbatas, jika keadaan diatas telah manifest maka apakah pilihan terminasi kehamilan atau terapi paliatif masih belum bisa memberikan bukti efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Villar,Jose, Merialdi,Mario, Abalos,Edgaro. 2003. The Journal of Nutrition : Nutritonal Intervention during Pregnancy for the Prevention or Treatment of Maternal Morbidity and Preterm Delivery: An Overview of Randomize Controlled Trials. Geneva, Switzerland.

Kakuman R,Kruner. 2007. The Cochrane Collaboration : Energy and Protein Intake in Pregnancy. Published by John Wiley and Sons,Ltd.

Bhutts,Haider. 2007. The Cochrane Collaboration : Multiple-micronutrient Supplementation for Women during Pregnancy. Published by John Wiley and Sons,Ltd.

Kolsteren, Patrick. 2009. Micronutrient and Pregnancy Outcome. Department of Public Health, Institute of Tropical Medicine. Antwerp,Belgium.



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...