Kamis, November 17, 2011

Terapi Infeksi Saluran Kemih Simptomatis dalam Masa Kehamilan


Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu dari masalah kesehatan yang muncul pada saat kehamilan. ISK terjadi pada 17-20% kehamilan dan berhubungan erat dengan ketuban pecah dini, persalinan prematur, khorioamnionitis, demam post-partum dan infeksi neonatal, meskipun patogenesisnya masih belum jelas. Bellady dan Romero membuat hipotesis bahwa kuman patogen ISK menghasilkan asam arakhidonat, fosfolipase A2 dan prostaglandin yang membuat cervix menipis meningkatkan kalsium pada miometrium, yang menghasilkan kontraksi miometrium. Mekanisme ini yang dicurigai menginduksi persalinan prematur.

ISK juga dapat menyebabkan komplikasi lebih serius pada ibu dengan terjadinya syok septik, gangguan pernafasan, gangguan asam-basa, gagal ginjal kronik, dan kematian. ISK dikelompokkan menjadi bakteriuria asimtomatis, sistitis, dan pielonefritis. Kejadian ISK asimtomatis pada kehamilan ditemukan antara 2-10%. Ditemukan juga bahwa sekitar 30-50% dari kelompok ini akan menjadi simtomatis selama masa kehamilan. Diagnosis sistitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, dengan simptom seperti nyeri saat BAK, peningkatan frekuensi BAK dan nyeri pada abdomen bagian bawah tanpa demam. Ditemukan juga pyuria (leukosit >10/lp) pada urinalisis. 
Terdapat berbagai macam pilihan obat untuk terapi ISK. Pilihan utama yang dapat memberikan hasil optimal tidak mudah. Antibiotik yang ideal harus memenuhi syarat:
1. Mempunyai efektivitas yang teruji dalam suatu studi uji buta ganda acak
2. Aktivitas yang baik terhadap semua patogen yang dapat menyebabkan ISK
3. Dapat dipertahankan kadarnya yang efektif di dalam darah dan jaringan
4. Tidak mudah menimbulkan resistensi
5. Tidak mahal
6. Toleransi luas
7. Tidak berbahaya untuk janin

Berbagai macam antibiotik telah diujikan untuk mengobati ISK dalam masa kehamilan seperti fosfomicin, pipemidic acid, nitrofurantoin, kotrimoksazol, aztreonam, ampicillin, amoksisilin, carbenicilin, cephradine, dan cephalexin. Obat-obat tersebut diberikan baik per oral maupun intravena, dalam dosis tunggal maupun pemberian selama 3, 5, 7, 10 dan 15 hari. Maka terdapat banyak obat pilihan untuk mengobati ISK selama masa kehamilan. Kesembuhan dari ISK pada masa kehamilan dilaporkan sebanyak 70-100%.

Antibiotik intravena dan oral vs antibiotik intravena saja
Dari penelitian yang dilakukan Brost dkk di Charleston (1996), ditemukan adanya perbedaan pada angka kesembuhan antara kelompok yang diberi antibiotik intravena+oral dibandingkan antibiotik oral saja (OR 2.43, 95% CI 0.46-12.90), namun perbedaan ini tidak bermakna. Tidak ditemukan perbedaan pada angka rekurensi infeksi ISK.

Antibiotik diberikan dengan rawat inap vs rawat jalan
Penelitian yang dilakukan Millar dkk (1995) dan Wing dkk (1998) di Los Angeles tidak menemukan adanya perbedaan keluaran pada angka kesembuhan, rekurensi pielonefritis, kejadian persalinan prematur dan kejadian demam berkepanjangan antara 2 kelompok uji.

Cephazolin im vs Ampicillin iv dan Gentamicin iv
Wing dkk (1988) tidak menemukan perbedaan bermakna antara kedua kelompok uji pada angka kesembuhan ISK. Kejadian pergantian antibiotik lebih banyak ditemukan pada kelompok Cephazolin dibandingkan Ampicillin+Gentamicin (OR 7.78, 95%CI 0.48-125.99), angka ini tidak bermakna secara statistik.

Ceftriaxon im vs Ampicillin iv dan Gentamicin iv
Penelitian yang dilakukan Wing dkk (1998) pada populasi di Los Angeles ini menemukan adanya perbedaan pada angka kesembuhan antara kelompok ceftriaxon vs ampicillin+gentamicin (OR 3.29, 95%CI 0.55-19.8), namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik. Tidak ditemukan perbedaan pada rekurensi pielonefritis, kejadian persalinan prematur, penggantian antibiotik dan kejadian demam berkepanjangan.

Ceftriaxon i.m  vs Cephazolin i.v
Wing dkk (1998) menemukan bahwa angka kesembuhan pasien yang diberi ceftriaxon i.m lebih baik dibandingkan kelompok cephazolin i.v (OR 2.84, 95%CI 0.39-20.7) namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik.

Fosfomicin oral vs Ceftibuten oral
Penelitian yang dilakukan Krcmery dkk (2001) pada 41 wanita hamil dengan ISK di Bratislava menemukan bahwa angka kesembuhan pasien yang diberi Fosfomicin oral lebih baik dibandingkan Ceftibuten oral (OR 2.22, 95% CI 0.19-26.3), namun tidak bermakna secara statistik. 


Gentamicin dosis tunggal vs Gentamicin dosis multipel
Nien dkk (2001) tidak menemukan perbedaan bermakna pada angka kesembuhan pada dua kelompok uji pada penelitian ini (OR 0.24, 95% CI 0.01-5.17).

Simpulan
Secara umum, tidak dijumpai adanya perbedaan antara intervensi dan kontrol pada semua penelitian yang dilakukan. Perbedaan yang diukur adalah angka kesembuhan, rekurensi infeksi, insidensi persalinan prematur, kegawatan bayi yang dilahirkan (admisi ke NICU), pergantian antibiotik dan kejadian demam berkepanjangan. Semua antibiotik dan cara pemberiannya ditemukan efektif untuk mengobati ISK dengan efek samping yang kecil. Adanya perbedaan yang ditemukan antara kelompok uji tidak bermakna secara statistik.

Kecilnya jumlah sampel yang dipakai pada penelitian-penelitian ini juga memperngaruhi kekuatan penelitian. Sampel yang dipakai pada semua penelitian ini umumnya tidak besar, sehingga mempengaruhi kekuatan penelitian. 

Semua pilihan antibiotik yang diujikan pada penelitian-penelitian ini menghasilkan efek kesembuhan yang baik dan efek samping yang kecil. Bila demikian, maka pemilihan antibiotik untuk ISK kemudian harus lebih ditujukan pada antibiotik yang harganya murah dan dapat diberikan per oral (meningkatkan toleransi dan mengurangi angka mondok).



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...