Jumat, November 11, 2011

Peran Apoptosis Pada Preeklampsia

Apoptosis atau kematian sel yang terprogram merupakan proses yang aktif dimana sel yang tidak berfungsi dengan baik disingkirkan untuk mempertahankan fungsi normal dari jaringan. Sebagai respon terhadap rangsangan yang berbeda apoptosis dapat diperantarai oleh dua jalur yaitu jalur instrinsik (mitocondrial pathway) dan jalur ekstrinsik (death receptor-mediated pathway) (Shawn et al., 2005). Kematian sel yang terprogram atau apoptosis memainkan peranan penting dalam homeostasis sel dan remodeling jaringan, terutama pada perkembangan plasenta. Apoptosis penting dalam pembentukan dan homeostasis jaringan, proses ini berlangsung di plasenta baik pada kehamilan normal maupun  preeklamsia/ eklamsia dan apoptosis plasenta akan meningkat pada preeklamsia dan IUGR (Crocker, 2003). 


Pentingnya, degenerasi plasenta yang tampak pada preeklampsia mungkin disebabkan proses apoptosis trofoblas yang tidak terjadwal/tidak normal. Remodeling arteri spiralis terkait kehamilan dimediasi oleh invasi sitotrofoblas. Meskipun begitu, jika trofoblas ini dijadikan sebagai sasaran apoptosis dalam jumlah yang tinggi, transformasi arteria spiralis yang cacat ini mungkin akan menghasilkan iskemia lokal, trombosis dan infark. Penyebab pasti peningkatan apoptosis pada preeklamsia sampai sekarang belum diketahui. Alasan mengapa terjadi apoptosis yang sangat kuat ini masih belum diketahui, tetapi telah ditunjukkan bahwa sitokin pro-inflamasi bisa meregulasi gen Fas/FasL, sementara sitokin anti-inflamasi melindungi trofoblas melawan apoptosis yang diinduksi Fas (Matthiesen et al., 2005).
Sebuah penelitian dengan menggunakan hewan coba menunjukkan bahwa sel trofoblas sangat sensitif terhadap sitokin-sitokin seperti TNF-α dan IFN-γ. Ini menujukkan bahwa ekspresi TNF-α dan IFN-γ dalam plasenta mungkin menginduksi apoptosis sel trofoblas (Hu et al. 2008; Li et al. 2005). Interferon gamma lebih toksis bila dibandingkan dengan TNF-α (Pijnenborg et al., 2000).
Mengenai sitokin sebagai penghancur/perusak dan sebagai alat diagnostik yang potensial dalam prediksi pada preeklamsia (Matthiesen et al. 2005) menemukan adanya reaktivitas imun bawaan sistemik dengan peningkatan kadar TNF-α, IL-6, dan IL-8. Ketika mereka menstimulasi sel mononuklear darah tepi dengan antigen paternal ‘fetus specific’ atau antigen ‘recall’ kadar yang serupa sekresi IL-4, IL-10, IL-12, dan IFN-γ terdeteksi pada preeklamsia dan kehamilan normal. Ini tidak menyingkirkan penyimpangan sitokin lokal pada kadar plasenta yang kompatibel dengan aktivitas inflamasi. Meskipun begitu, hasil yang diperoleh sejalan dengan konsep preeklamsia sebagai fenomena inflamasi, tetapi dengan gambaran yang jauh lebih kompleks daripada hanya sekedar penyimpangan Th1 (Matthiesen et al., 2005).                         
Invasi trofoblas yang adekwat hanya mungkin terwujud jika proses desidualisasi endometrial dinding uterus yang baik terjadi. Proses desidualisasi dimulai segera setelah ovulasi agar dapat menerima embrio, produksi progesteron dari korpus luteum merangsang desidua untuk meningkatkan vaskularisasi dan aktivitas sekretoris kelenjar endometrial. Leukosit dalam desidua terutama terdiri dari sel natural killer uterine (uNK) sekitar 65-70%. Dan monosit /makrofag sekitar 15-20%, yang fungsi pastinya tidak diketahui. Terdapat pula sejumlah kecil sel T sementara sel B hampir tidak ada, invasi trofoblas berada dibawah pengaruh beberapa sitokin yang diproduksi pada fetal maternal interface oleh beberapa sel immun dan non immun seperti leukosit termasuk sel NK , trophoblast, sel stroma, dan endotel kelenjar. Jadi hipotesis terbaru yang memperhatikan etiologi pre eklamsia seharusnya fokus pada maladaptasi respon immun dan invasi trophoblast yang kurang adekwat. Aktivitas respon immun yang adaptif dicirikan berdasar pada fenomena sekresi sitokin terpolarisasi oleh sel T helper (Th). Sel T helper ini dibagi menjadi dua  sel Th1 dan sel Th2. Pada manusia sel Th1 mensekresi sitokin inflamasi seperti interferon gamma  (IFN-γ) dan tumor nekrosis faktor-α (TNF-α), sementara sel Th2 mensekresi sitokin anti inflamasi seperti IL-4, IL-5, dan IL-9 (Matthiesen et al., 2005; Pijnenborg et al., 2000; Shawn, 2005). Baik Th1 maupun Th2 begitu juga dengan sel non-limfoid, termasuk makrofag, mensekresi IL-10. Walaupun model Th1/Th2 terlalu sederhana untuk mencakup keseluruhan kompleks profil diferensiasi sel-sel yang memproduksi sitokin, tetapi model ini masih menyediakan suatu kerangka kerja yang berguna untuk menjelaskan respon imun yang diberikan oleh sel imun maupun sel non-imun. Faktor yang jelas penting untuk menginduksi baik jalur Th1 maupun Th2 adalah adanya sitokin tertentu selama proses awal ketika antigen dikenali.
IL-4 mendikte respon imun pada Th2 dan efek IL-4 telah ditunjukkan untuk mendominasi seluruh IFN-γ. Jadi, adalah mungkin jika keberadaan trofoblas dalam cavum uteri dengan lingkungan anti-inflamasi yang buruk memulai adanya aktivasi inkompatibel sel-sel imun desidua yang secara langsung memicu aktivitas imun lokal melalui proses inflamasi. Selanjutnya, produksi sitokin sistemik dan respon imun sepertinya lebih didominasi oleh fungsi inflamasi mereka yang mungkin memulai proses patologi terkait dengan preeklamsia (Matthiesen et al., 2005). Interaksi antara leukosit dan trofoblas tidak efektif pada preeklamsia, Th1 sitokin pada kadar yang tinggi misalnya IL2, IL1dan IFN γ sedangkan sekresi Th2 sitokin seperti IL10 dan IL5 menurun (Verlohren, 2009). Apoptosis  plasenta meningkat pada penderita preeklampsia dan IUGR, fenomena ini belum diketahui sebabnya (Crocker et al., 2003; Leach et al., 2002). 


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...