Jumat, November 18, 2011

Kegunaan Laktobasilus sebagai Probiotik untuk Infeksi Bakteri pada Vagina

Infeksi Urogenital merupakan kelainan yang paling sering menyebabkan seseorang datang ke ginekolog. Infeksi urogenital pada wanita seringkali dicirikan dengan perubahan pada flora lokal dari predominan laktobasilus menjadi uropatogen colliform sebagai hasil defisiensi hormon, aktivitas seksual, kontrasepsi, usia lanjut, diabetes melitus, Fase luteal pada siklus menstruasi, Kehamilan, Adanya jaringan nekrotik atau benda asing atau penggunaan antibiotik dan produk pembersih vagina. Gangguan pada flora normal dapat menyebabkan sejumlah gangguan urogenital seperti infeksi bakteri pada vagina, infeksi jamur, infeksi menular seksual, inflamasi pelvis, dan infeksi HIV (human immunodeficiency virus). Infeksi urogenital yang sering dialami oleh wanita adalah infeksi bakteri pada vagina, yaitu 40-50%, infeksi jamur (kandidiasis) sebanyak 20-50% dan Trichomoniasis sebanyak 15-20%.


Infeksi Bakteri pada Vagina
Infeksi bakteri pada vagina merupakan kondisi umum pada wanita usia reproduktif yang dialami 16-20% kehamilan dan merupakan keluhan lebih dari 25% wanita yang datang ke klinik ginekologi. Bahkan di Amerika serikat infeksi bakteri pada vagina merupakan vaginitis yang paling sering dialami oleh wanita. Infeksi bakteri pada vagina dicirikan dengan perubahan pada mikrobiota vagina dari laktobasilus yang bersifat protektif menjadi bakteri patogen, termasuk bakteri intraseluler Mycoplasma hominis, serta bakteri anaerob, seperti Gardnerela vaginalis, Atopabium, Prevotella, Mobiluncus, dan bakteri aerob seperti Eschericia coli dan enterococci.

Diagnosis infeksi bakteri pada vagina berdasarkan gejala klinis dikenal kriteria Amsel dan penilaian mikroskopik dengan skor Nugent. Kriteria Amsel terdiri dari: cairan vagina berwarna putih homogen, terdapat clue cells secara mikroskopik, pH cairan vagina > 4,5 dan bau amis pada penambahan alkali KOH 10%. Skor nugent berasal dari pemeriksaan mikroskopik pewarnaan gram apus cairan vagina. Perbandingan relatif bentuk bakteri ditentukan, menghasilkan skor antara 0 dan 10. Skor <4 normal, skor 4-6 intermediet dan >6 infeksi bakteri pada vagina positif. Centers for disease Control (CDC) merekomendasikan kriteria infeksi bakteri pada vagina adalah apabila kriteria Amsel ≥ 3 dan skor Nugent ≥ 7. Berdasarkan Food and Drugs Administration (FDA), verifikasi pengobatan infeksi bakteri pada vagina harus dilaksanakan antara 21 dan 30 hari setelah terapi awal, dengan sembuh didefinisikan sebagai Amsel kriteria tidak ada dan skor Nugent <3.2 Pengobatan infeksi bakteri pada vagina dapat menggunakan antibiotik oral atau vaginal. Antibiotik yang biasa digunakan adalah metronidazol atau klindamisin, akan tetapi angka kesembuhan setelah 30 hari seringkali kurang baik dan seringkali terjadi rekurensi. Sehingga pengobatan jangka panjang dengan dosis rendah untuk supresi infeksi bakteri pada vagina mulai dipikirkan.5 Maka lahirlah rasionalisasi penggunaan laktobasilus untuk mengembalikan flora komensal vagina. Laktobasilus yang merupakan bakteri dominan dari flora vagina dan memiliki efek antimikroba yang mengatur mikroba vagina lain. Hal ini memberikan pergeseran pemikiran tentang laktobasilus dari makanan tambahan menjadi terapi medik, salah satunya adalah penggunaan laktobasilus untuk pengobatan dan pencegahan infeksi bakteri pada vagina.2 Pemberian Laktobasilus untuk Infeksi Bakteri pada Vagina Infeksi bakteri pada vagina seringkali dicirikan dengan perubahan pada flora lokal dari predominan laktobasilus menjadi bakteri patogen sebagai hasil defisiensi hormon, aktivitas seksual, kontrasepsi dan faktor-faktor lainnya.2 Bakteri anaerob dapat ditemukan kurang dari 1% pada wanita normal. Pada wanita yang mengalami infeksi bakteri pada vagina akan mengalami peningkatan jumlah bakteri patogen sampai sekitar 100-1000 kali lebih tinggi dibanding wanita normal, sedangkan laktobasilus berkurang. Laktobasilus memiliki kemampuan untuk mengatur pH vagina ≤ 4,5. Lingkungan asam kondusif untuk replikasi laktobasilus dan produksi berikutnya dari zat-zat antibakteri tambahan, termasuk bakteriosin dan hidrogen peroksida. Kemampuan ini tergantung terutama pada jumlah laktobasilus untuk menghasilkan asam laktat. Sebagai tambahan, laktobasilus mungkin menawarkan perlindungan melawan infeksi bakteri pada vagina melalui produksi biosurfaktan. Biosurfaktan menghambat pertumbuhan uropatogen dengan menghambat adhesi dari mikroorganisme sepanjang sel uroepitelial. Laktobasilus dapat bersatu dengan uropatogen untuk menghambat adhesi dan atau menggantikan uropatogen pada sel-sel epitel vagina. Kemampuan laktobasilus untuk berkoloni pada mukosa vagina tergantung pada jalan lahir dan besarnya adhesi terhadap sel epitel vagina. Kapsul yangdimasukkan lewat vagina adalah cara yang efektif untuk memasukkan atau menaikkan isi laktobasilus lokal. Formulasi oral laktobasilus untuk infeksi urogenital harus mampu mengatur integritas struktur selama melewati usus dan dikeluarkan lewat rektum untuk kenaikan dan kolonisasi traktus vagina. Bukti invitro menunjukkan bahwa laktobasilus memiliki perbedaan kemampuan untuk adhesi terhadap sel epitel vagina, dengan adhesi yang terbesar adalah strain Lactobacillus gasseri, Lactobacillus brevis dan Lactobacillus acidophilus. Penelitian mengenai kolonisasi laktobasilus pada manusia telah difouskan pada terapi oral dan vaginal dengan kombinasi Lactobacillus rhamnosus GR-1 dan Lactobacillus fermentum RC-14 (dosis > 1 x 109 colony forming units (CFU) per hari). Setelah penggunaan oral strain ini akan menyebabkan laktobasilus vagina normal dalam 28-60 hari. Pada kolonisasi fecal dan vaginal oleh strain ini dapat terlihat setelah 14 hari pemberian secara oral. Dengan formulasi vaginal, kolonisasi lokal dengan strain ini setelah 3 hari dan dilanjutkan terbukti saat 12 hari.

Pada beberapa penelitian didapatkan efek positif terhadap pengobatan infeksi bakteri pada vagina. Penelitian oleh Anukam dan kawan-kawan dengan membandingkan antara probiotik yang mengandung Lactobacilus rhamnosus GR-1 dan Lactobacillus reuteri RC-14 dengan gel vagina yang mengandung metronidazol. Penelitian ini dilakukan pada 40 wanita yang menderita infeksi bakteri pada vagina, satu kelompok setiap malam selama 5 hari diberikan probiotik intravaginal yang mengandung Lactobacilus rhamnosus GR-1 dan Lactobacillus reuteri RC-14 sedangkan kelompok lainnya diberikan gel vagina yang mengandung metronidazol. Follow-up pada hari ke 6, 15 dan 30 menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok yang mendapatkan probiotik dengan kelompok yang mendapatkan gel vagina yang mengandung metronidazol. Penelitian serupa oleh Hallen dan kawan-kawan dengan membandingkan antara suposutoria vagina yang mengandung laktobasilus atau plasebo untuk 6 hari didapatkan angka kesembuhan 21% pada kelompok pertama dan 0% pada plasebo.

Penelitian pada wanita premenopause yang berusia 18-44 tahun oleh Anukam, dibandingkan antara pasien yang menerima laktobasilus setelah pemberian metronidazol 500 mg selama 7 hari dengan plasebo didapatkan angka kesembuhan infeksi bakteri pada vagina sebesar 88% sedangkan plasebo 40%. Infeksi bakteri pada vagina juga pernah diteliti pada wanita hamil trimester pertama, kelompok pertama diberikan pembasuh vagina yang mengandung laktobasilus, kelompok kedua diberikan tampon yang mengandung asam asetat 5% dan kelompok terakhir tidak mendapatkan pengobatan apapun. Pemberian pengobatan dilakukan selama 7 hari. Pada minggu ke-4, didapatkan hasil perbedaan angka kesembuhan yang signifikan antara kelompok pertama (88%) dengan kelompok kedua (38%) maupun kelompok ketiga (15%).

Namun pada penelitian Erikson dan kawan-kawan, tidak ditemukan efek positif probiotik untuk pengobatan infeksi bakteri pada vagina. Pada penelitian ini diberikan klindamisin ovula 100 mg/hari untuk 3 hari, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ≥ 5 tampon yang mengandung laktobasilus atau plasebo pada saat menstruasi berikutnya. Didapatkan hasil angka kesembuhan adalah sebesar 56% pada kelompok yang diberikan tampon probiotik dan 62% pada plasebo. Penelitian oleh fredricsson dan kawan-kawan yang membandingkan antara pemberian probiotik, jeli asam asetat, krim estrogen dan metronidazol, didapatkan angka kesembuhan pengobatan infeksi bakteri pada vagina, pada masing-masing kelompok adalah 7%, 18%, 6% dan 93%.

Dosis laktobasilus ≥ 1 x 108 CFU/mL dosis padat (oral,kapsul, kapsul intravagina, suposutoria vagina atau tampon vagina). Laktobasilus diberikan minimal selama 5 hari. Masing-masing penelitian menggunakan sekurang-kurangnya follow-up selama 28 hari, namun tidak ada penelitian yang menggunakan kriteria yang ditetapkan CDC yaitu kriteria Amsel dan skor Nugent.

Efek Samping
Laktobasilus adalah bakteri flora normal di dalam mulut, traktus gastrointestinal, dan traktus urogenital dan bisa didapatkan melalui intake probiotik atau makanan yang difermentasikan (misalnya keju, yogurt, minyak zaitun). Infeksi yang disebabkan oleh laktobasilus sangat jarang, diperkirakan 0,05% sampai 0,4% kasus kombinasi dari infeksi endokarditis dan bakteriemia. Hampir sebagian besar kasus terjadi pada pasien dengan penyakit kronis atau pasien debil dan beberapa berhubungan dengan paparan terhadap makanan mengandung probiotik atau suplemen. Tidak ada bukti yang yang menunjukkan peningkatan bakteriemia berhubungan dengan laktobasilus.

Pada wanita yang mengalami infeksi bakteri pada vagina, pemberian laktobasilus saja atau kombinasi dengan metronidazol berhubungan dengan perbedaan yang signifikan pada angka kesembuhan relatif dibandingkan dengan plasebo pada beberapa penelitian. Berdasarkan beberapa data disebutkan, pemberian laktobasilus saja berhubungan dengan angka kesembuhan infeksi bakteri pada vagina yang sebanding dengan terapi antibiotik standar. Kombinasi laktobasilus dan antibiotik berhubungan dengan beberapa bukti peningkatan angka kesembuhan infeksi bakteri pada vagina relatif dibandingkan dengan monoterapi dengan metronidazol.

Daftar Pustaka
1. Berek, Jonathan S. Berek and Novak’s Gynecology. 14th Edition. 2007
2. Barrons R, Tassone D. Use of Lactobacillus Probiotics for bacterial Genitourinary Infections in Women. Clinical Therapeutics/Volume 30, Number 3, 2008
3. Ramirez-Santos A, Pereiro M, Toribio J. Recurrent Vulvovaginitis : Diagnostic Assesment and Therapeutic Management. Actas Dermosifiliogr. 2008;99: 190-8
4. Yamamoto T, Zhou X, Williams CJ, Hochwalt A, Forney LJ. Bacterial Populations in the Vaginas of healthy Adolescent Women. J Pediatr Adolesc Gynecol (2009) 22:11e18
5. Anukan KC, Osazuwa E, Osemene GI, Ehigiagbe F, Bruce AW, Reid G. Clinical study comparing probiotic Lactobacillus GR-1 and RC-14 with metronidazole vaginal gel to treat symptomatic bacterial vaginosis. Microbes and Infection 8 (2006) 2772e2776


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...