Selasa, Mei 03, 2011

Infertilitas


Setiap pasangan suami istri pada umumnya selalu mendambakan anak sebagai salah satu penunjang kebahagiaan rumah tangga. Pasangan suami istri (Pasutri) yang belum berhasil mendapatkan anak akan berusaha mendapatkannya demi mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera. Namun harapan itu tidak semua dapat terpenuhi karena adanya beberapa permasalahan antara lain sulit hamil. Masalah yang dikenal sebagai infertilitas ini memang menjadi masalah serius pasangan suami istri. Oleh karena itulah pasangan suami istri yang kesulitan hamil harus mendapat perhatian dalam pelayanan medis demi kesejahteraan keluarganya (Sumapraja, 1999).


Angka infertilitas pasangan suami istri usia produktif di Indonesia terdapat sebesar 12-15%. Persentase jumlah pasangan infertil di Indonesia bila diperhitungkan dari banyaknya wanita yang pernah kawin dan tidak mempunyai anak yang hidup yang berada di desa dan kota kira-kira sama. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan jumlah pasangan suami istri di Indonesia yang infertil terdapat sekitar 10-15%. Pada tahun 1995 WHO melaporkan terdapat sekitar 8% pasangan suami istri di dunia mengalami masalah infertilitas selama masa reproduksinya. Penyebab infertilitas bisa berasal dari pihak suami maupun istri, atau keduanya. Infertilitas harus dikelola dalam satu kesatuan pasangan, karena keberhasilan kehamilan tidak dapat diandalkan hanya dari satu pihak saja. Penyebab infertilitas ada yang dengan mudah dapat dijelaskan tetapi ada pula yang belum ataupun tidak dapat dijelaskan, meskipun kini telah tersedia cara-cara diagnostik yang canggih dan teknik pengobatan yang maju (Vayena, 2002). Kehamilan merupakan hasil dari pertemuan sel sperma dan sel telur (konsepsi) yang kemudian berkembang menjadi janin. Konsepsi terjadi dengan syarat harus ada sel telur dan sel sperma yang matang dan harus melakukan “perjalanan” melalui beberapa organ reproduksi yang sehat. Permasalahan terjadi jika salah satu atau kedua alat reproduksi pria maupun wanita mengalami gangguan, kalau yang terjadi demikian maka konsepsi sulit terjadi. Oleh karena itu pemeriksaan pada pasangan infertil harus dilakukan secara bersamaan dan satu kesatuan. Fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup. Infertilitas primer adalah pasangan suami istri tidak pernah hamil meskipun bersenggama teratur selama 1 tahun tanpa proteksi. Infertilitas sekunder adalah pasangan suami istri pernah hamil tetapi kemudian tidak mampu untuk hamil lagi meskipun bersenggama teratur selama 1 tahun tanpa proteksi (Speroff, 2005).

Fertilisasi In vitro
Fertilisasi in vitro adalah salah satu cara untuk mendapatkan keturunan dengan cara menempatkan kembali hasil konsepsi yang dipertemukan di luar tubuh ibu ke dalam rongga rahim (Pernoll, 2001). Semula fertilisasi in vitro diindikasikan untuk istri yang mengalami kerusakan pada kedua tuba yang tidak dapat dilakukan reparasi atau perbaikan. Setelah ternyata tingkat keberhasilannya meningkat, indikasi fertilisasi in vitro diperluas tidak hanya faktor tuba saja, tetapi juga mencakup yang pertama adalah faktor suami yaitu Konsentrasi spermatozoa. Pada inseminasi buatan dilakukan kontak langsung antara spermatozoa dan oosit. Angka kejadian fertilisasi meskipun rendah namun dapat diterima dengan konsentrasi sperma 1,5 x 106/ml setelah dilakukan prosedur swim up. Faktor yang kedua adalah motilitas spermatozoa. Jenis motilitas spermatozoa tergantung dari gerakan ekor, kemajuan, arah dan kecepatan spermatozoa. Faktor yang ketiga yaitu Morfologi Spermatozoa. Spermatozoa normal memiliki tiga bagian yaitu kepala, leher dan ekor. Bila salah satu bagian tersebut tidak ada atau bentuknya abnormal menyebabkan kemampuan sel sperma untuk membuahi akan menurun. Sel sperma dianggap normal jika bentuk sperma normal sekitar 30% dalam setiap ejakulat (WHO, 1997)
Faktor infertilitas istri yang pertama adalah kerusakan kedua tuba. Indikasi klasik fertilisasi in vitro adalah riwayat salpingektomi oleh karena kehamilan ektopik, kegagalan operasi rekonstruksi tuba atau adanya obstruksi menetap pada tuba bagian distal atau kornu (Amino, 2002). faktor kedua adalah servik abnormal. Infertilitas yang berhubungan dengan faktor servik dapat disebabkan oleh sumbatan kanalis servikalis, lendir servik abnormal, malposisi servik atau kombinasinya. Bila beberapa kali didapatkan hasil pemeriksaan uji pasca sanggama yang buruk, faktor ini patut dipertimbangkan. Pada pasien ini biasanya keadaan mukosa servik tidak dapat diperbaiki dengan obat-obatan dan inseminasi intrauterin tidak berhasil sehingga harus dilakukan fertilisasi in vitro. Faktor yang ketiga adalah Gangguan Ovulasi. Gangguan perkembangan pematangan sel telur dan pecahnya sel telur antara lain merupakan faktor penyebab ketidaksuburan. Saat akan dilakukan inseminasi buatan diperlukan deteksi tepat waktu ovulasi. Waktu ovulasi digunakan untuk menentukan saat sanggama atau bila siklus haid sangat panjang. Faktor yang keempat adalah imunologi. Imunologi infertilitas dipengaruhi oleh aspek imunobiomolekuler. Adanya aktifitas sitokin dan antibody mediated menunjukkan mekanisme yang saling berhubungan pada proses fertilisasi awal sampai implantasi. Kerjasama jaringan reproduksi dan aktifitas sistem imun ini dapat menimbulkan respon lingkungan yang harmonis antara sel-sel sistem imun, sekresi produksi yang berefek normal pada jaringan reproduksi. Pada sebagian kasus infertilitas, antibodi dalam tubuh wanita yang disebut antibodi antisperma dapat menggumpalkan sperma yang akan mengurangi motilitas sperma. Antibodi antisperma menghasilkan sistem imun yang dalam keadaan tertentu berperan sebagai benda asing. Antibodi antisperma dapat mengakibatkan aglutinasi sperma atau berpengaruh pada interaksi antara sperma dan sel telur. Kemampuan sperma untuk membuahi sel telur berkurang terutama jika antibodi sperma menempel di kepala sperma. Faktor selanjutnya adalah penyebab yang tidak terjelaskan.
Bila dari hasil pemeriksaan lengkap tidak dapat ditemukan kelainan yang dapat menghambat kehamilan, keadaan ini dikategorikan sebagai unexplained factor. Sebanyak 10% kasus infertilitas penyebabnya belum dapat dijelaskan. Hal ini dapat diketahui apabila dari pemeriksaan lengkap pasangan suami istri dinyatakan normal namun setelah ditangani selama minimal 6 bulan istri belum berhasil hamil. Keberhasilan fertilisasi in vitro pada pasien unexplained factor hampir sama dengan kasus infertilitas yang disebabkan karena faktor tuba dan endometriosis (Soesatyo, 2003)
Perkembangan dunia kedokteran dengan adanya teknologi fertilisasi in vitro atau bayi tabung telah memberikan harapan pada pasangan suami istri infertil untuk dapat memiliki keturunan. Fertilisasi in vitro merupakan prosedur bantuan reproduksi yang digunakan secara luas di dunia. Dalam pengertian sederhana, fertilisasi in vitro adalah upaya mengambil sel telur dari ovarium kemudian disatukan dengan sel sperma di laboratorium menjadi embrio. Embrio lalu ditempatkan ke dalam rahim untuk implantasi dan kehamilan. Pada saat pemindahan embrio, keadaan lingkungan rahim, kualitas dan jumlah embrio mempengaruhi implantasi dan kehamilan tersebut. Penelitian-penelitian dilakukan untuk mendapatkan angka kehamilan yang tinggi berdasarkan keadaan lingkungan rahim, kualitas embrio dan jumlah embrio yang diransfer. Kualitas dan jumlah embrio dinilai secara langsung berdasarkan morfologi. Keberhasilan pertama kali cara fertilisasi in vitro ditandai dengan lahirnya bayi tabung pada bulan juli 1978. Proses suatu kehamilan didahului oleh adanya pertemuan antara ovum atau sel telur dari pihak wanita dengan spermatozoa dari pihak pria yang disebut sebagai proses fertilisasi. Setelah terjadi konsepsi barulah terjadi perkembangan sel yang disebut sebagai embrio yang terdiri dari beberapa sel. Selanjutnya embrio ini akan tertanam di rongga rahim ibu atau berimplantasi dan selanjutnya akan tumbuh dan berkembang melalui diferensiasi hingga tumbuh menjadi janin. Peristiwa ketidakmampuan hamil seringkali berasal dari kegagalan yang terjadi saat fertilisasi maupun implantasi. Kehadiran teknik in vitro fertilization atau disebut juga teknologi bayi tabung sebagai salah satu usaha untuk mengatasi problem infertilitas, ternyata hanya menghasilkan kehamilan kurang dari 10% (Lopata, 1996).


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...