Selasa, Februari 16, 2010

Kematian Janin dalam Rahim

Faktor risiko yang paling berperan untuk kematian janin dalam rahim antara lain: ras kulit hitam non hispanik, nulipara, usia maternal tua, dan obesitas Pada wanita dengan risiko rendah dengan kematian janin dalam rahim memiliki rekurensi kehamilan janin dalam rahim sebesar 7,8-10,5/1000 dengan sebagian besar kasus terjadi pada umur kehamilan sebelum 37 minggu

Risiko untuk kematian janin dalam rahim untuk kehamilan berikutnya adalah sebesar dua kali lebih besar pada wanita yang pernah melahirkan bayi IUGR dengan umur kehamilan kurang dari 32 minggu dibandingkan dengan wanita yang pernah mengalami kematian janin dalam rahim Pemeriksaan yang paling penting untuk kematian janin dalam rahim meliputi: otopsi janin, pemeriksaan plasenta, tali pusat, dan selaput, serta karyotyping. Amniosentesis memberikan hasil terbaik pada kehamilan yang tidak akan segera diterminasi. Apabila fasilitas dan ahli tersedia, Doppler arteri uterine dapat dilakukan pada umur kehamilan pada umur kehamilan 17-22 minggu membantu pemeriksan USG dalam memeriksa pasien dengan risiko hasil kehamilan yang buruk.

Wanita dengan Doppler arteri uterine positif harus menjalani:
-          Skrining dobel marker bila usia kehamilan di bawah 18 minggu
-          Doppler arteri uterine ulangan pada umur kehamilan 24-26 minggu, bila hasilnya tetap positif maka harus dirujuk ke bagian MFM untuk manajemen lebih lanjut. Doppler arteri umbilical tidak perlu dilakukan sebagai alat skrining pada kehamilan normal, karena terbukti tidak bermanfaat pada kelompok tersebut
Doppler arteri umbilical sebaiknya dilakukan untuk penilaian sirkulasi plasenta janin pada wanita hamil dengan kecurigaan kelainan pada plasenta.
Pemeriksaan Doppler arteri umbilical dipertimbangkan pada saat:
-          Pada saat dicurigai adanya hambatan pertumbuhan janin
-          Selama follow up untuk kecurigaan adanya kelainan plasenta
Tergantung pada faktor klinis lain, tidak ada pengurangan maupun pembalikan aliran end diastolic arteri umbilical merupakan indikasi untuk fetal surveilans lebih lanjut atau terminasi. Apabila persalinan ditunda untuk pematangan paru-paru bayi menggunakan pemberian glukokortikoid pada maternal, fetal surveilans intensif hingga persalinan disarankan pada pasien dengan janin yang mengalami pembalikan arah end diastolic arteri umbilikal. Pada trimester dua, dilatasi dan kuretase dapat ditawarkan. Induksi persalinan dapat dilakukan pada usia kehamilan yang lebih lanjut,
apabila dilatasi dan kuretase tidak dapat dilakukan, atau bedasarkan kondisi pasien
Induksi persalinan menggunakan misoprostol secara vaginal merupakan cara yang aman dan efektif pada pasien dengan riwayat SC dengan irisan uterus transversal sebelum umur kehamilan 28 minggu



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...